Menjadi Perempuan

Menjadi Perempuan
Yovita Amalia, 2019






Diciptakan alam pria dan wanita
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita

            Lagu Sabda Alam, Ciptaan Ismail Marzuki ini memiliki gambaran kuat tentang perempuan kala itu. Gambaran tentang perempuan yang hidup di bawah naungan para lelaki. Hal ini dikuatkan dengan hukum penciptaan di mana perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang menjadikan perempuan selalu menjadi sosok kedua dari penciptaan. Sebagai sosok kedua, perempuan dianggap tidak memiliki hak untuk berperan serta memajukan kehidupan kala itu. Budaya patriarki masih berperan aktif dalam menentukan segala hal. Kedudukan, pemikiran serta pendapat perempuan belum mendapatkan tempat dalam masyarakat, perempuan belum dapat bergerak sebagai individu yang bebas untuk mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya sebagai manusia kala itu. Ketimpangan gender menjadi permasalahan besar yang dihadapi oleh perempuan.
            Dad Murniah, seorang badan bahasa menuliskan dalam jurnalnya bahwa perempuan atau wanita telah dipagari dengan norma-norma budaya yang membentuk mereka. Contohnya dalam budaya masyarakat Jawa, kata ‘wanita’ memiliki arti tersendiri yaitu “wani” berarti berani dan “tata” berarti atur. Sosok wanita dalam budaya Jawa diartikan sebagai pribadi yang berani diatur oleh laki-laki. Wanita akan dianggap mulia jika melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh laki-laki, dalam kata lain wanita harus tunduk kepada laki-laki. Hal ini sepadan dengan yang dituliskan oleh Zoetmulder (1982) dalam "Old Javanese English Dictionary" yang mendeskripsikan wanita sebagai ‘sesuatu yang diinginkan oleh pria’. Wanita hanya dianggap sebagai objek laki-laki.

Menjadi Perempuan
Yovita Amalia,2019

            Sebelum modernitas melanda kehidupan saat ini, sebagai objek laki-laki wanita harus memiliki banyak keahlian, khususnya dalam hal mengurus rumah tangga. Sebagai pendamping laki-laki dalam kehidupan rumah tangga, wanita memiliki banyak peran seperti menjaga rumah, mengurus suami,  melahirkan, membesarkan anak, dan memilihara anak. Falsafah Jawa mengatakan bahwa tugas perempuan adalah macak, manak, dan masak. Perempuan dalam keluarga harus dapat macak atau berias diri agar selalu terlihat cantik, menarik, dan mempesona. Hal ini dikaitkan dengan penampilan perempuan yang harus selalu terlihat menarik agar dapat menahan laki-lakinya untuk senang dirumah. Selain itu, perempuan harus dapat manak atau menghasilkan keturunan serta memelihara dan menjaga keturunannya. Perempuan juga harus dapat memasak atau mengurusi segala hal yang berbau dapur. Perempuan harus dapat memenuhi selera laki-laki dalam hal makan dan minum. Hal ini didukung dengan pernyataan Warto (1997) dalam bukunya Sangkan Paran Gender yang mengatakan bahwa perempuan jaman dahulu harus dapat melakukan macak, manak dan masak. Jika perempuan tidak dapat melakukan tiga aspek tersebut maka perempuan tersebut dianggap sebagai aib keluarga. Hal ini sangat jelas menggambarkan  kedudukan perempuan jaman dulu dalam sistem patriarki dianggap sebagai yang terbelakang.  
Peran patriarki yang kuat jaman dulu menjadikan perempuan selalu harus tunduk kepada para laki-laki. Namun bila dilihat di masa kini, apakah  sebenarnya laki-laki merasa menjadikan perempuan sebagai objeknya? Bagaimana jika pengkonsepan filosofi perempuan diambil dari sudut pandang laki-laki ? Terlalu naif jika membahas perempuan dari segi perempuan itu sendiri. Maka dari itu terkumpulah 10 laki-laki dari berbagai macam usia dan pekerjaan yang terjerat dalam mengkonsepkan filosofi perempuan yang rumit. Jika dilihat sebelumnya, pada masa lampau laki-laki seakan berperan sebagai tersangka dalam kehidupan perempuan yang merasa dijadikan korban sebagai objek kepuasan mereka. Namun, bagaimana laki-laki mengkonsepkan perempuan masa kini ? Pertanyaan baru bermunculan dengan jaman yang berbeda dan cerita yang berbeda pula. Apakah laki-laki masih menganggap perempuan modern sebagai objek bagi laki-laki ? Apakah bagi laki-laki, perempuan modern harus tetap tampil cantik dan menarik untuk memuaskan hasrat mereka? Apakah laki-laki melihat perempuan modern masih harus sibuk dengan urusan perut dan dapur? Apakah laki-laki menuntut perempuan modern masih harus mengurus rumah tangga dan menjaga anak ? Apakah pandangan laki-laki kepada perempuan modern bisa lebih dari aturan macak, masak, manak?
Dimulai dari konsep pertama, macak  atau berias diri.  Jika perempuan jaman dahulu macak untuk menarik hati, mempertahankan dan memuaskan laki-lakinya, perempuan jaman sekarang menggunakan istilah macak lebih untuk mengikuti perkembangan jaman. Konsep macak saat ini lebih menjadikan banyaknya gebrakan dalam dunia fashion dan make up yang sangat menggiyurkan para perempuan di seluruh penjuru dunia, termasuk perempuan di Indonesia. Seperti yang dilansir oleh Kompas pada Agustus 2018, industri kecantikan di Indonesia tumbuh pesat hingga 16 persen. Hal ini dilihat sebagai sebuah kesadaran perempuan untuk mempercantik diri dengan bantuan kosmetik. Tidak hanya kosmetik, berbagai cara untuk mempercantik diri pun mulai bermunculan seperti sulam alis, sulam bibir, hingga sedot lemak berhasil menarik hati tidak sedikit perempuan. Hal ini diperkuat dengan media yang membentuk perempuan menjadi sosok yang ideal, bukan hanya di mata laki-laki namun di mata publik.
Media membentuk perempuan sebagai sosok yang cantik, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh langsing. Teori komunikasi massa jarum suntik media bekerja efektif dalam hal ini. Menurut Nurudin (2014) teori ini mengatakan bahwa media memiliki pemikiran bahwa khalayak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan media. Pembentukan citra perempuan dimata media ini telah memberikan dampak besar bagi sebagian perempuan. Hal ini menjadikan banyak perempuan melakukan atau membentuk diri mereka seperti sosok perempuan hasil pembentukan media. Media seakan memiliki standar kecantikannya sendiri yang membuat para perempuan merasa “sempurna” jika sudah berhasil memenuhi standar tersebut. Namun sebenarnya standar kecantikan yang dimiliki media ini membentuk stigma dan stereotype bagi khalayak khususnya para perempuan.
Perempuan yang tidak dapat memenuhi standar kecantikan media ini dianggap tidak “sempurna”. Perlahan munculah istilah body shaming atau sebuah kritik tentang bentuk tubuh seseorang. Tidak jarang mereka yang terkena body shaming ini mengalami gangguan kesehatan mental akibat terpupuk kritik mengenai bentuk tubuh mereka. Seperti yang dilansir dalam bullyingstatistics.org body shaming berdampak besar dan mengkhawatirkan, sebanyak 94 persen perempuan telah terdampak body shaming. Padahal, jika standar kecantikan tidak diukur oleh media, perempuan dapat hidup lebih nyaman dan aman.
Menjadi Perempuan
Yovita Amalia, 2019

Jika melihat dari sudut pandang laki-laki, 8 dari 10 laki-laki menyatakan bahwa hakikat perempuan adalah berias diri untuk kepuasan mereka. Mereka lebih banyak berpendapat bahwa laki-laki merasa memiliki prestise yang tinggi bila mendapatkan perempuan yang cantik, memiliki bentuk badan yang ideal dan pintar merias diri. Bagi mereka make up merupakan senjata ampuh perempuan untuk meluluhkan hati laki-laki. Mereka meyakini bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang sesuai dengan kriteria perempuan pada umumnya yaitu putih, rambut lurus, badan langsing dan hidung mancung. Sedangkan 2 dari 10 laki-laki merasa make up bukanlah sebagai sarana pemikat hati laki-laki. Mereka merasa bahwa make up merupakan pedang bermata dua yang dapat menyembunyikan keaslian wajah perempuan. Mereka tidak mempermasalahkan mengenai bentuk tubuh maupun kemampuan mereka dalam merias diri. Hal ini dikarenakan mereka meyakini bahwa pemilihan kriteria perempuan  yang ideal adalah salah satu bentuk dari body shaming itu sendiri. 2 dari 10 laki-laki ini menyakini bahwa perempuan dianggap cantik tidak hanya dari bentuk tubuh yang indah dan riasan wajah yang molek, melainkan cantik itu dilihat dari beberapa aspek pendukung seperti pendidikan dan sifat.
Beralih dari konsep macak, konsep kedua dari filosofi perempuan adalah manak atau memiliki keturunan. Jika dibandingkan dengan pemikiran jaman dahulu yang menganggap perempuan sebagai aib keluarga jika tidak memiliki keturunan, perempuan masa kini dirasa lebih terbuka dalam menanggapi permasalahan klise ini. Memiliki keturunan/anak merupakan sebuah tanggung jawab yang besar dan harus siap dihadapi oleh perempuan maupun laki-laki setelah menikah. Ada perempuan yang siap dengan tanggung jawab tersebut tetapi ada pula yang memilih untuk hidup independen tanpa anak bahkan tanpa pendamping hidup. Anggapan mengenai perempuan sebagai objek laki-laki yang selalu dapat dibuahi untuk menghasilkan generasi penerus sudah mulai luntur mengikuti arus perkembangan jaman. Jika perempuan tidak dapat menghasilkan keturunan dikarenakan beberapa faktor, teknologi dapat membantunya menghasilkan keturunan dengan program bayi tabung. Namun, tidak memiliki anak saat ini dirasa bukan perkara yang besar. Tidak sedikit perempuan yang memutuskan untuk hidup secara independen, tanpa laki-laki, tanpa anak.
Selain manak, konsep terakhir adalah masak. Perempuan pada masa lampau diharuskan dapat memasak untuk memenuhi selera laki-lakinya. Perempuan pada masa lampau meyakini bahwa salah satu cara memikat hati laki-laki adalah dengan memberikan kepuasan perut melalui masakan. Sedikit berbeda dengan masa kini, perempuan tidak harus dapat memasak. Memasak bukanlah suatu kewajiban, namun memasak menjadi suatu poin tambahan bagi perempuan. Keahlian memasak dapat ditumbuhkan secara perlahan tanpa harus dipaksakan dan dipertanyakan keperempuanannya. Dapur bukan menjadi ladang kerja utama bagi perempuan masa kini.
7 dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan tidak harus dapat memasak. Mereka berpendapat bahwa memasak merupakan bagian dari hobi bukan kewajiban. Mereka meyakini bahwa tidak masalah kalau perempuan tidak dapat memasak. Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan tidak hanya sebatas laki-laki bekerja dan perempuan mengurus rumah. Namun, 7 dari 10 laki-laki ini setuju bahwa laki-laki merupakan seorang bapak rumah tangga yang juga memiliki kewajiban dalam mengurus rumah tangga beserta dengan urusan perut dan dapur. Dapur bukan lagi tempat perempuan bekerja. Perkembangan teknologi semakin memudahkan laki-laki dan perempuan untuk memuaskan isi perut tanpa asap, bau, dan kehambaran rasa masakan.
Ketiga konsep tentang perempuan pada masa lampau sudah mulai luntur termakan jaman. Perempuan masa kini lebih mandiri dan lebih berani mengungkapkan ekspresi mereka tentang apa yang mereka rasakan tanpa harus terbentur budaya macam-macam. Selain dari konsep macak, manak, dan masak, para responden laki-laki memandang perempuan masa kini tidak jauh berbeda dari masa lampau yang mengatakan bahwa perempuan harus dapat melakukan segala sesuatu (multitasking). Namun, konsep multitasking ini berbeda di mana laki-laki meminta perempuan untuk dapat melakukan segala sesuatu tanpa harus bergantung kepada laki-laki, contohnya adalah bekerja. 7 dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan harus bekerja dan memiliki karir. Perempuan harus dapat ikut menopang kehidupan berkeluarga. Perempuan yang berkarir menjadi sebuah nilai tambahan bagi para laki-laki, karena dianggap sebagai perempuan yang mandiri dan memiliki visi yang jelas dalam kehidupan. Selain berkarir, 7 dari 10 laki-laki ini  menyetujui bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan yang tinggi. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan penyalur pendidikan pertama bagi generasi penerus. Oleh karena itu munculah istilah seorang anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas.
Menjadi perempuan modern di mata laki-laki ternyata lebih rumit dibandingkan pada masa lampau. Rumit karena perempuan dituntut untuk dapat melakukan segalanya dengan teratur, seperti berpenampilan menarik untuk bekerja, mengenyam pendidikan tinggi, menjadi ibu yang cerdas, dan mandiri dalam melakukan segala hal tanpa bergantung kepada laki-laki. Namun, perempuan modern bukanlah lagi menjadi objek semata bagi laki-laki, melainkan memiliki kesetaraan dalam berbagai hal. Bukan lagi Adam diciptakan untuk Hawa melainkan Hawa diciptakan untuk Adam yang berarti perempuan bertugas untuk menopang kehidupan laki-lakinya dan menjadikan perempuan masa kini dianggap lebih mandiri dan dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bergantung dengan laki-laki. 

Referensi
Warto.1997. Wanita Pabrikan : Simbol Pergeseran Status Wanita Desa dalam Abdullah, Irwan. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Zoetmulder, P.J. 1982. Old Javanese--English Dictionary. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff




Hai Kamu, Terimakasih !

Terkadang seseorang yang ada saat ini hanya sebagai perantara kita menuju masa depan, bukan menjadi masa depan.



Hai kamu, terimakasih telah datang mengisi hari-hariku dengan semua candaan, senyuman, bahkan sapaan yang aku belum pernah menemukannya dengan orang lain. Terimakasih telah menjadi seseorang yang selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan semua keluh kesahku setiap hari. Kamu adalah salah satu orang yang banyak mengajarkanku arti hidup, arti berjuang, dan arti bertahan. "Aku yakin kamu bisa melakukan dan mengejar semua mimpimu", katamu di ujung telepon malam itu. Terimakasih telah mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang berguna dalam hidup. 

Aku tak pernah ingat sejak kapan kamu datang mengisi hari-hariku. Sebelum ada kamu, hari-hariku kelabu. Namun, setelah ada kamu hari-hari ku berwarna seperti lampu-lampu yang menyala di malam hari di sudut kota Jogja. Kamu datang membawa pengharapan baru bagi hidupku. Semangat yang selalu hadir dalam dirimu seakan tersalurkan dalam hidupku. 

Banyak sekali cerita yang kau bagikan kepada ku. Banyak pengalaman hidupmu yang berharga yang kau ceritakan padaku. Hingga kau ingin aku juga mendapatkan pengalaman yang sama denganmu. Kau ingin aku merasakan indahnya hidup dengan melakukan banyak hal sebelum akhirnya harus berhenti dan menceritakannya pada Bapa di Surga. 

Namun, salah satu ceritamu yang membuatku terasa sakit adalah saat kamu menceritakan dia, Ya, dia yang telah bersama mu selama 6 tahun belakangan ini. Kamu selalu menceritakan dia, ya dia yang membuatmu meragu akan segala keputusan. Dia yang akan bersanding dengan mu di hadapan Tuhan dan umat dalam waktu yang tidak lama lagi. Dia yang sudah lebih dulu mengisi hatimu. "maaf ya, aku sudah masuk ke dalam kehidupanmu dengan jalan yang seperti ini", katamu di depan rumahku. Bukan, ini bukan salahmu. Ini salahku. Ya, salahku yang telah memberikan mu ruang di hati ku yang sebenarnya aku tau dan aku mengerti bahwa dirimu bukan untukku.

Terimakasih kamu, yang telah menjadikan ku sebagai adik perempuan yang bisa selalu menghiburmu. Aku sangat bahagia ketika aku dapat menyediakan telingaku untuk mendengar ceritamu. Aku sangat bangga ketika aku dapat menyediakan kaki ku untuk berjalan menemani mu kemanapun kau mau saat kau membutuhkan inspirasi. Aku sangat bersyukur karena aku dapat merelakan mu  berbahagia bersamanya dengan mengatakan "Aku akan menjadi tamu yang paling cantik di pesta pernikahan mu esok, karena aku tidak akan melewatkan hari paling berharga di hidupku. Melihat seorang kakak tersayang berbahagia dengan seorang yang telah dipilih untuk menua bersama mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga". 

Aku berterimakasih kepada Tuhan karena aku telah menjadikannya seseorang yang selalu ku sebut dalam doa. Walau ternyata bagi Tuhan kita hanyalah dua orang yang dipertemukan untuk saling menemukan yang lain. Terimakasih dari aku adik yang paling berbahagia :) 

Waktu yang Tepat + Menunggu = Pertemuan





Kau tahu, 

Aku benci menunggu, 

Tapi untuk kau,
Aku bersahabat dengan waktu.



Aku tak pernah tau kapan waktu yang tepat itu datang, kecuali aku mendatangimu dan mengubah kedatangan waktu yang "tepat" itu. Sampai pada akhirnya aku menyadari banyak orang datang ke dalam diriku dalam waktu yang tidak tepat atau aku terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat itu. 

Berbicara mengenai waktu merupakan satu hal yang rumit. Waktu itu sulit ditebak. Kita tidak bisa bermain dengan waktu. Tidak bisa meminta waktu untuk berjalan cepat, apalagi berjalan lambat. Waktu menyimpan seluruh jawaban akan satu hal yang tidak pasti, namun aku selalu menunggu waktu untuk menjawab segala hal yang tidak pasti itu. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. Hingga pada akhirnya tahun demi tahun. Waktu yang tepat itu tidak datang. 

Pada ahirnya tanggal 24 September 2016, aku merasa waktu yang tepat itu datang. Atau ini hanyalah perasaan ku saja ? Pertemuan dengan seseorang yang kudambakan selama 11 tahun itu terjadi. Kejutan akan seseorang yang aku tidak pernah tau kapan dia datang dan dihadirkan untuk ku. Saat waktu yang tepat itu terjadi, aku merasa bahwa aku tidak pernah melakukan apapun saat menunggu waktu yang tepat itu datang. Sampai pada akhirnya seseorang yang aku dampakan selama 11 tahun itu datang kembali. Di waktu yang tepat.  

Pernikahan, menjadi salah satu momen yang tepat untuk pertemuan. Sama seperti 6 tahun lalu, pertemuan terakhir sebelum hari itu. Aku tidak pernah tau kapan seseorang itu datang. Dan pada saat dia datang berdiri di depan ku, aku merasa waktu seakan berhenti sejenak. Tuhan seakan membiarkan ku melepas rindu pada seseorang yang sangat ku dampakan kehadirannya. 

Dia tidak berubah, masih sama seperti yang dulu. Waktu tidak merubahnya. Waktu membiarkannya menjadi seseorang yang sama. Sama seperti dulu. Masih tampak terlihat lucu, manis, dan menyenangkan. Waktu seakan memilih untuk menjaga dia untuk tidak berubah. Aneh memang, tapi menyenangkan. 

Kehadirannya kala itu benar-benar menjawab segala pertanyaan di benak. Dia membuat ku yakin akan sesuatu hal yang aku sendiri tidak mengerti kebenarannya. Dia datang seakan membuatku percaya akan kekuatan waktu. Dia seakan menginginkanku untuk tetap percaya pada waktu. Waktu yang akan mempertemukan kami di keadaan selanjutnya. Waktu yang akan menjadikan segalanya menjadi seperti apa yang ku ingini. 

Melalui waktu dan penantian, aku yakin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untuk hidupku. Melalu orang itu, aku yakin Tuhan memberikan secarik pesan untuk disampaikan. Pesan yang mengantarkan ku untk lebih memahami tentang hidup. Pesan yang berujung kebahagiaan.  

Sembari menunggu waktu yang tepat itu datang kembali, aku melangkah mempersiapkan pertemuan selanjutnya dengan penuh kebahagiaan. Aku yakin saat waktu yang tepat itu datang, kebahagiaan lah yang akan di dapat. 

"Kalau kau percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu suatu hari nanti." Terimakasih waktu telah mempertemukan. Semoga  pertemuan selanjutnya berujung selamanya ~

Dan disini, aku masih tetap menunggu dengan percaya, untuk waktu, untuk pertemuan, untuk kita. 

Teruntuk Aku yang Sedang Belajar

"So teach us something worth knowing,
Bring us back what we've forgot,
Just do your best, we'll do the rest,
And learn until our brains all rot..."


― Harry Potter and the Sorcerer's Stone

Belajar dari hidup. Belajar dari orang lain. Belajar dari pengalaman. Belajar dari diri sendiri. Itulah beberapa hal yang sangat susah untuk aku lakukan dalam beberapa tahun terakhir perjalanan hidupku. Mengapa susah ? Padahal aku hanya diinginkan untuk "belajar".

Belajar itu susah. Iya, susah karena harus masuk ke dalam suatu hal yang tak pernah aku tahu sebelumnya, kemudian harus memahaminya, lalu menerimanya. Rasa malas untuk belajar sering menghantui kehidupan ku. Rasa itu dinamakan "terbiasa". Ya, semua yang aku lakukan adalah suatu hal yang sering, sehingga membuatku malas untuk heran akan sesuatu atau belajar dari sesuatu yang baru. Ibarat sebuah pertunjukan sulap, aku adalah bagian kecil yang berada di dalam bulu-bulu halus seekor kelinci yang keluar dari topi pesulap. Aku seakan telah nyaman dengan kehangatan yang ada di dalam bulu-bulu halus kelinci kecil tersebut. Aku seakan malas memanjat bulu-bulu tersebut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luarnya. Apa yang aku lakukan seolah-olah karena aku telah terbiasa dengan semuanya. Aku malas untuk melakukan segala sesuatu yang tidak pernah aku coba sebelumnya. Malas untuk melakukan segala hal yang aku tidak biasa. Hal ini menyebabkan aku selalu berpikir bahwa semua hal yang dilakukan oleh orang-orang disekitar ku adalah hasil dari "terbiasa" yang berujung "maklum". 

Berawal dari "terbiasa", mulailah muncul pertanyaan "jika semua muncul karena terbiasa, siapakah aku ini ? apakah aku akan sama dengan orang-orang yang selalu melakukan hal karena terbiasa? Jika ya, mengapa aku disini ? untuk apa ?" 

Pertanyaan yang selalu muncul menggelitik pikiran di tengah malam. Pertanyaan "siapakah aku ini" bukan sekedar pertanyaan yang dapat dijawab hanya dengan mengucapkan sebuah nama yang diberikan orang tua kita atau siapapun pada saat kita lahir. Pertanyaan "mengapa aku disini" bukan sekedar  pertanyaan yang dapat dijawab hanya dengan me'dikte' aktivitas sehari-hari. Kedua pertanyaan tersebut sangat susah  untuk aku jawab pada saat ini. 

Namun, berawal dari kedua pertanyaan tersebut aku belajar untuk memahami hidup. Ya, di dalam diri manusia aku percaya terdapat dua kepribadian, "light and dark side". Aku memahami dua kepribadian itu secara positif. Tak selamanya light side membawamu ke dalam kehidupan yang "positif". Tak selamanya light side menjadi sesuatu yang me"malaikat"kan mu. Terkadang light side bisa menjadikanmu sebagai bahan pergunjingan. Terlihat terlalu baik terkadang akan menjadikan orang lain memandang negatif kepribadian kita. Begitu pula pada dark side kepribadian manusia. Tak selamanya dark side dipandang sebagai sesuatu yang negatif yang terdapat dalam diri manusia. Terkadang kita sebagai manusia harus menggunakan dark side kita dalam situasi tertentu untuk mengungkap suatu hal yang menyangkut kehidupan orang banyak. Menurutku licik untuk sesuatu yang positif adalah hal yang wajar asal tidak merugikan orang lain. 

Belajar itu susah. Sangat susah. Belajar itu susah tetapi tidak membuang waktu. Waktu tetap sama. Hanya hal di dalamnya saja yang berbeda. Mengapa berbeda ? Karena belajar. Waktu akan berputar terus menerus tanpa henti. Waktu itu sama dari hari ke hari. Belajar membuat waktu itu seakan memiliki perubahan dari waktu ke waktu. Belajar itu absurd. Belajar itu susah. Apalagi belajar memahami orang lain. Belajar memahami diri sendiri saja susah. 

Namun jawaban dari "siapakah aku ini" dan "untuk apa aku disini" hanya dapat dijawab dengan "belajar".
Belajar untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya dan belajar untuk mengerti tujuan keberadaan ku di sini, di dunia ini. 
Aku hanya bisa mencari tahu siapa aku ini dan untuk apa aku disini hanya dengan belajar. 

Entahlah. Aku tidak mengerti definisi belajar itu apa.

Setidaknya aku sedang belajar.

Belajar memahami aku.

Belajar memahami kamu.

Belajar memahami waktu.

Belajar memahami arti belajar ini.

Sang Pemilik Kunci Hati, Pengubah Sudut Pandang Gila


“If pain must come, may it come quickly. Because I have a life to live, and I need to live it in the best way possible. If he has to make a choice, may he make it now. Then I will either wait for him or forget him.” 


Kata yang tepat untuk sebuah penantian yang tak kunjung berakhir. Untuk pertemuan yang didambakan selama 11 tahun yang tak kunjung datang. Pertemuan yang akan menentukan maju mundurnya suatu penantian.  Aneh memang. Tak masuk akal. Tapi nyata. 

Menunggu seseorang yang tidak pasti adalah melelahkan. Menunggu seseorang yang sangat "jauh" itu bodoh. Dan semua hal itu aku lakukan selama 11 tahun ini. GILA.

Ya, aku memang memiliki sudut pandang "gila" mengenai penantian. Aku berpikir bahwa kesabaran akan penantian  membuahkan hasil yang sesuai dengan lamanya penantian yang aku jalani. Ternyata itu semua salah. Hal tersebut hanya akan menjadikan ku jauh dari sesuatu yang sebenarnya dapat ku miliki. Aku menemukan dua jawaban akan sebuah penantian yaitu penantian akan berujung pernikahan dan penantian berujung move on.  Tidak selamanya penantian berbuah manis, namun penantian mengajarkan ku arti dari kesetiaan.

Selama menunggu seseorang yang ku nanti selama 11 tahun, rindu itu selalu mengisi hati dan pikiran ku. Tetapi aku berpikir sejenak. Rindu ? Apakah aku merindukan orang yang sudah ku tunggu selama 11 tahun itu ? Atau aku hanya merindukan kenangan klasik masa kecil yang pernah kami jalani bersama ? Sepertinya aku hanya merindukan kenangan nya, bukan dia yang kutunggu itu. 

Tanpa sadar, selama dalam penantian menanti yang tidak pasti, banyak orang yang datang silih berganti bermaksud mengisi ruang hati yang kosong. Namun, semua tak ada yang berhasil karena pintu hati belum terketuk dan masih terkunci. Alhasil, kesepian sering sekali hadir dan hati terasa kosong. Aku akui, susah sekali membuka pintu hati untuk seseorang. Hal ini dikarenakan aku masih suka membanding-bandingkan semua orang yang datang dalam hidupku dengan orang yang ku tunggu 11 tahun lamanya. Hingga saat ini aku ter-sadar bahwa tidak ada orang yang ingin dibanding-bandingkan   satu dengan yang lain. Semua orang berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing. Dan satu hal yang terpenting adalah tidak ada yang sempurna. Dan, aku pun mulai membuka pintu hati yang masih terkunci secara perlahan.

Dia......

Dia, teman yang selalu ada dalam hidupku. Seorang teman yang tidak pernah aku duga akan membuatku tak menentu seperti ini. Seorang teman yang selalu datang membawa cerita baru. Seorang teman yang selalu memberikan perhatian melebihi "teman" pada wajarnya. Seorang teman yang selalu mengerti segala suasana hati yang sedang kurasakan. Dan seorang teman yang datang saat aku mulai membuka hati. Aneh rasanya. Teman yang  tak pernah kubayangkan sebelumnya, datang mengetuk pintu hati yang telah lama sepi pengunjung. Saat aku lelah mencari kepastian akan penantian. Ia datang dengan segala sesuatu yang sederhana. Senyumnya yang tulus, tingkahnya yang lucu menyenangkan hatiku yang lama tak menentu. Rasa sepi yang telah sekian lama menyelimuti ruang hati perlahan sirna semenjak kehadirannya. Memang hidup se-lucu ini. 

Dia yang selalu membuatku terpana saat ia berbicara akan teori-teori bodoh yang ia miliki dalam hidupnya tetapi benar adanya. Dia yang selalu mengerti bagaimana caranya menghibur seseorang setiap saat. Dia yang berbeda dari setiap orang yang pernah aku temui sebelumnya. Ya, dia berbeda. Sangat berbeda. 

Ia membuka pintu hati ini dengan statement-statement bodoh yang menjadikannya terlihat sangatlah bodoh. "bodoh bukan berarti salah", katanya. Ya, ku akui bahwa statement bodohnya selalu menjadikan ku berpikir bahwa hal itu benar adanya. 

Dia yang selalu bisa membuat ku tampil secara sederhana. Dia yang selalu bisa membuat ku lebih santai dalam menghadapi segala situasi kondisi. Dia yang dapat menerima apa adanya. Dia yang selalu ada saat kapan pun. Dia yang memegang kunci hati ini. 

Disaat ku sudah lelah mencari. Disaat hati ini tlah terkunci, kau datang membawa seberkas harapan. Engkau yang memiliki kunci hatiku. Dan ku akui hanyalah dirimu yang bisa merubah segala sudut pandang gila. Yang kurasakan tentang cintaYang selama ini menutup pintu hatiku yang kini tlah kau buka. 

Terimakasih,  sang pemilik kunci. 





Teruntuk Kamu, yang Kutunggu 11 Tahun Lamanya





Menunggu. Bagi sebagian orang kata itu memiliki makna yang membosankan. Ya, menunggu itu membosankan. Apalagi jika menunggu sesuatu yang tidak pasti. Hal tersebut akan menjadi sangat amat membosankan. Jika menunggu hanya dalam hitungan menit hingga jam pasti rasa bosan tersebut tidak terlalu terasa, namun bagaimana jika menunggu selama 11 tahun ? Bodoh.

Aku adalah orang yang bodoh. Menunggu seseorang selama 11 tahun. Tanpa kepastian. Hanya bermodal harapan. Harapan yang berawal dari sebuah kisah klasik masa kecil. Harapan yang belum tentu menjadi kenyataan. Tapi, aku selalu berharap bahwa harapan tersebut akan menjadi kenyataan. tak tahu kapan, dan bagaimana caranya.

Sedikit cerita, hal bodoh ini terjadi saat aku duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas 4. Aneh, lucu, dan tak lazim jika pada masa sekolah dasar sudah bisa merasakan perasaan yang seharusnya dirasakan oleh orang dewasa pada umumnya. Tetapi perasaan itu nyata. Berawal dari suka latihan nyanyi bersama, kegiatan gereja bersama, hingga semua yang kami kerjakan selalu bersama. Seorang kakak kelas yang lebih tua satu tahun diatas ku. Gak ganteng, Gak ada menarik-menariknya. Dia hanyalah seorang yang memakai kacamata bertali, culun, terlihat seperti anak mami, dan mirip dengan salah satu tokoh dalam serial kartun Doraemon yaitu Nobita. Nobi, ya itu panggilan kesayanganku padanya. 

Pada masa sekolah dasar aku dan Nobi sering  bersama, terlebih dalam kegiatan gereja. Hal ini terjadi karena kedua orang tua kami juga aktif dalam kegiatan menggereja. Kebersamaan kami ini sebenarnya hanya sebatas kebersamaan seperti anak SD pada dasarnya. Bermain, Bercanda, dan Berkegiatan bersama. Tak ada yang spesial. Namun, dari ketidakspesialan pertemanan kami itulah yang membuatnya spesial. Hal sederhana masa sekolah dasar yang bisa membuat ku jatuh hati. 

Paskah merupakan momen yang sangat aku tunggu. Mengapa ? Karena setiap paskah aku melihat dia selalu menari bersama kelompoknya untuk menghibur dalam perayaan paskah. Dengan Handycam Sony pada masa itu, aku tak pernah luput untuk merekam penampilannya. Selain momen paskah, ulang tahun ku merupakan momen yang selalu aku tunggu. Pada ulang tahun ke 8, Nobi memberikanku sebuah handuk berwarna orange yang masih kusimpan sampai pada hari ini. Penampilan nobi, selalu membuatku merasa bahwa "dia berbeda dari yang lain". Nobi sangat suka menggunakan kaos bergambar kartun yang menjadikan ku sampai pada saat ini sangat menyukai kaos bergambar kartun.

Sampai pada akhirnya, semua kesukaan ku tentang dia berubah ketika Nobi harus pindah untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang menengah pertama. Sedih. Perasaan yang dapat aku ungkapkan. 
Kami lost contact. Aku benar-benar merasa kehilangan seseorang yang selalu mengisi hari-hari ku di sekolah, di gereja, dan dimana pun. Rasanya hampa. 

2 tahun berlalu, tepatnya pada pernikahan saudara di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran kami kembali dipertemukan. Pertemuan yang tak sengaja dilakukan. Pertemuan yang mengejutkan. Tapi, dalam setiap pertemuan pasti memiliki makna.  Dia bertanya "apa kabar ?" Salah tingkah. Ya, jantungku berdebar sangat cepat. Seakan ia yang lama menghilang kini kembali. Ternyata perasaan itu masih ada. 

Mulai dari pertemuan itu, banyak hal terjadi. Aku mendapat kontaknya. Aku mendapat media sosialnya. Kami sempat berhubungan via sms namun tak bertahan lama. Pada saat bbm menjadi salah satu hal yang cukup "tenar" saat itu, aku mencoba mencari tahu pin-nya untuk hanya sekedar ingin mengetahui kabarnya. Akhirnya aku mendapatkan pin nya. Hingga Dia memiliki lima pin yang disebabkan hp nya hilang dan alasan lainnya, membuat ku juga memiliki lima pin nya. Selain hal tersebut, aku juga kerap merasakan sesuatu hal yang berhubungan dengannya. Contohnya pada saat dia sakit, aku merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hati. Aneh memang tapi ini sungguh terjadi. Pada saat ia melakukan ujian nasional SMA dan ujian SNMPT, SBMPTN sampai pada akhirnya menunggu hasilnya aku serasa ikut masuk ke dalam perasaannya. Serta pada saat aku mengetahui bahwa ia tidak diterima ke dalam universitas yang ia inginkan melalui segala jalur.
Diluar dari semua kejadian mengenai aku dan dia yang aku inginkan semenjak pertemuan di Ganjuran adalah Pertemuan kembali. ya. aku sangat menginginkan pertemuan itu kembali. 

Pertemuan itu hampir kembali, saat kakeknya meninggal aku datang untuk melayat namun dia tak ada. Saat ada pernikahan di Jakarta, sekeluarga ku bertemu dengannya, kecuali aku. Sedih. Memang. Tapi aku bisa apa ? 

Tuhan seakan menguji kesabaran ku untuk menunggu seseorang yang selama ini menjadi semangat dan inspirasiku. Nobi adalah inspirasiku, apapun yang aku lakukan selalu dia yang menjadi semangat ku dalam melakukan berbagai hal. Dia selalu ada dalam setiap keberhasilanku. Dalam setiap keterpurukan ku. Aneh ? iya memang aneh, tapi ini nyata. 

Untuk kamu yang kutunggu selama 11 tahun, terimakasih. Terimakasih karena telah ada dan singgah dalam hatiku untuk memberiku sebuah inspirasi dalam berkarya. Terimakasih telah menjadi patokan dalam setiap hal yang aku lakukan. Terimakasih telah memberikan warna dalam hariku. Terimakasih atas segalanya. Walaupun kau tak pernah mengetahui nya. 

Aku hanya menginginkan pertemuan. Walau hanya sebentar, tapi aku sangat menginginkannya. Apakah aku terlalu berharap ? Ya. Aku terlalu berharap. Berharap pertemuan itu akan terjadi. Tapi, aku juga berharap agar harapan ku akan pertemuan itu tidak mengkhianati penantian ku selama ini. Walaupun aku mengetahui untuk saat ini kami belum memiliki waktu yang tepat untuk saling bertemu. Tapi Aku yakin, suatu hari pertemuan itu akan terjadi. Pertemuan berujung selamanya.