![]() |
| Menjadi Perempuan Yovita Amalia, 2019 |
Diciptakan alam pria
dan wanita
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria
sejak dulu
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita
Lagu
Sabda Alam, Ciptaan Ismail Marzuki ini memiliki gambaran kuat tentang perempuan
kala itu. Gambaran tentang perempuan yang hidup di bawah naungan para lelaki. Hal
ini dikuatkan dengan hukum penciptaan di mana perempuan diciptakan dari tulang
rusuk laki-laki, yang menjadikan perempuan selalu menjadi sosok kedua dari
penciptaan. Sebagai sosok kedua, perempuan dianggap tidak memiliki hak untuk
berperan serta memajukan kehidupan kala itu. Budaya patriarki masih berperan aktif
dalam menentukan segala hal. Kedudukan, pemikiran serta pendapat perempuan
belum mendapatkan tempat dalam masyarakat, perempuan belum dapat bergerak
sebagai individu yang bebas untuk mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya
sebagai manusia kala itu. Ketimpangan gender menjadi permasalahan besar yang
dihadapi oleh perempuan.
Dad
Murniah, seorang badan bahasa menuliskan dalam jurnalnya bahwa perempuan atau
wanita telah dipagari dengan norma-norma budaya yang membentuk mereka.
Contohnya dalam budaya masyarakat Jawa, kata ‘wanita’ memiliki arti tersendiri
yaitu “wani” berarti berani dan “tata” berarti atur. Sosok wanita dalam budaya
Jawa diartikan sebagai pribadi yang berani diatur oleh laki-laki. Wanita akan
dianggap mulia jika melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh laki-laki, dalam
kata lain wanita harus tunduk kepada laki-laki. Hal ini sepadan dengan yang
dituliskan oleh Zoetmulder (1982) dalam "Old
Javanese English Dictionary" yang mendeskripsikan wanita sebagai ‘sesuatu
yang diinginkan oleh pria’. Wanita hanya dianggap sebagai objek laki-laki.
![]() |
| Menjadi Perempuan Yovita Amalia,2019 |
Sebelum modernitas melanda kehidupan
saat ini, sebagai objek laki-laki wanita harus memiliki banyak keahlian, khususnya
dalam hal mengurus rumah tangga. Sebagai pendamping laki-laki dalam kehidupan
rumah tangga, wanita memiliki banyak peran seperti menjaga rumah, mengurus
suami, melahirkan, membesarkan anak, dan
memilihara anak. Falsafah Jawa mengatakan bahwa tugas perempuan adalah macak, manak, dan masak. Perempuan dalam keluarga harus dapat macak atau berias diri agar selalu terlihat cantik, menarik, dan
mempesona. Hal ini dikaitkan dengan penampilan perempuan yang harus selalu terlihat
menarik agar dapat menahan laki-lakinya untuk senang dirumah. Selain itu,
perempuan harus dapat manak atau
menghasilkan keturunan serta memelihara dan menjaga keturunannya. Perempuan
juga harus dapat memasak atau mengurusi segala hal yang berbau dapur. Perempuan
harus dapat memenuhi selera laki-laki dalam hal makan dan minum. Hal ini
didukung dengan pernyataan Warto (1997) dalam bukunya Sangkan Paran Gender yang
mengatakan bahwa perempuan jaman dahulu harus dapat melakukan macak, manak dan masak. Jika perempuan tidak dapat melakukan tiga aspek tersebut
maka perempuan tersebut dianggap sebagai aib keluarga. Hal ini sangat jelas
menggambarkan kedudukan perempuan jaman
dulu dalam sistem patriarki dianggap sebagai yang terbelakang.
Peran
patriarki yang kuat jaman dulu menjadikan perempuan selalu harus tunduk kepada
para laki-laki. Namun bila dilihat di masa kini, apakah sebenarnya laki-laki merasa menjadikan
perempuan sebagai objeknya? Bagaimana jika pengkonsepan filosofi perempuan
diambil dari sudut pandang laki-laki ? Terlalu naif jika membahas perempuan dari
segi perempuan itu sendiri. Maka dari itu terkumpulah 10 laki-laki dari
berbagai macam usia dan pekerjaan yang terjerat dalam mengkonsepkan filosofi
perempuan yang rumit. Jika dilihat sebelumnya, pada masa lampau laki-laki seakan
berperan sebagai tersangka dalam kehidupan perempuan yang merasa dijadikan
korban sebagai objek kepuasan mereka. Namun, bagaimana laki-laki mengkonsepkan
perempuan masa kini ? Pertanyaan baru bermunculan dengan jaman yang berbeda dan
cerita yang berbeda pula. Apakah laki-laki masih menganggap perempuan modern
sebagai objek bagi laki-laki ? Apakah bagi laki-laki, perempuan modern harus
tetap tampil cantik dan menarik untuk memuaskan hasrat mereka? Apakah laki-laki
melihat perempuan modern masih harus sibuk dengan urusan perut dan dapur?
Apakah laki-laki menuntut perempuan modern masih harus mengurus rumah tangga dan
menjaga anak ? Apakah pandangan laki-laki kepada perempuan modern bisa lebih dari
aturan macak, masak, manak?
Dimulai
dari konsep pertama, macak atau berias
diri. Jika perempuan jaman dahulu macak untuk menarik hati, mempertahankan
dan memuaskan laki-lakinya, perempuan jaman sekarang menggunakan istilah macak lebih
untuk mengikuti perkembangan jaman. Konsep macak saat ini lebih menjadikan
banyaknya gebrakan dalam dunia fashion
dan make up yang sangat menggiyurkan
para perempuan di seluruh penjuru dunia, termasuk perempuan di Indonesia.
Seperti yang dilansir oleh Kompas pada Agustus 2018, industri kecantikan di
Indonesia tumbuh pesat hingga 16 persen. Hal ini dilihat sebagai sebuah
kesadaran perempuan untuk mempercantik diri dengan bantuan kosmetik. Tidak
hanya kosmetik, berbagai cara untuk mempercantik diri pun mulai bermunculan
seperti sulam alis, sulam bibir, hingga sedot lemak berhasil menarik hati tidak
sedikit perempuan. Hal ini diperkuat dengan media yang membentuk perempuan
menjadi sosok yang ideal, bukan hanya di mata laki-laki namun di mata publik.
Media
membentuk perempuan sebagai sosok yang cantik, berkulit putih, berambut
panjang, dan bertubuh langsing. Teori komunikasi massa jarum suntik media
bekerja efektif dalam hal ini. Menurut Nurudin (2014) teori ini mengatakan
bahwa media memiliki pemikiran bahwa khalayak dapat dibentuk sesuai dengan
keinginan media. Pembentukan citra perempuan dimata media ini telah memberikan
dampak besar bagi sebagian perempuan. Hal ini menjadikan banyak perempuan
melakukan atau membentuk diri mereka seperti sosok perempuan hasil pembentukan
media. Media seakan memiliki standar kecantikannya sendiri yang membuat para
perempuan merasa “sempurna” jika sudah berhasil memenuhi standar tersebut. Namun
sebenarnya standar kecantikan yang dimiliki media ini membentuk stigma dan
stereotype bagi khalayak khususnya para perempuan.
Perempuan
yang tidak dapat memenuhi standar kecantikan media ini dianggap tidak
“sempurna”. Perlahan munculah istilah body
shaming atau sebuah kritik tentang bentuk tubuh seseorang. Tidak jarang
mereka yang terkena body shaming ini
mengalami gangguan kesehatan mental akibat terpupuk kritik mengenai bentuk
tubuh mereka. Seperti yang dilansir dalam bullyingstatistics.org body shaming berdampak besar dan mengkhawatirkan, sebanyak 94
persen perempuan telah terdampak body shaming. Padahal, jika standar kecantikan
tidak diukur oleh media, perempuan dapat hidup lebih nyaman dan aman.
![]() |
| Menjadi Perempuan Yovita Amalia, 2019 |
Jika
melihat dari sudut pandang laki-laki, 8 dari 10 laki-laki menyatakan bahwa
hakikat perempuan adalah berias diri untuk kepuasan mereka. Mereka lebih banyak
berpendapat bahwa laki-laki merasa memiliki prestise yang tinggi bila
mendapatkan perempuan yang cantik, memiliki bentuk badan yang ideal dan pintar
merias diri. Bagi mereka make up
merupakan senjata ampuh perempuan untuk meluluhkan hati laki-laki. Mereka
meyakini bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang sesuai dengan
kriteria perempuan pada umumnya yaitu putih, rambut lurus, badan langsing dan
hidung mancung. Sedangkan 2 dari 10 laki-laki merasa make up bukanlah sebagai sarana pemikat hati laki-laki. Mereka
merasa bahwa make up merupakan pedang
bermata dua yang dapat menyembunyikan keaslian wajah perempuan. Mereka tidak
mempermasalahkan mengenai bentuk tubuh maupun kemampuan mereka dalam merias
diri. Hal ini dikarenakan mereka meyakini bahwa pemilihan kriteria
perempuan yang ideal adalah salah satu
bentuk dari body shaming itu sendiri.
2 dari 10 laki-laki ini menyakini bahwa perempuan dianggap cantik tidak hanya
dari bentuk tubuh yang indah dan riasan wajah yang molek, melainkan cantik itu
dilihat dari beberapa aspek pendukung seperti pendidikan dan sifat.
Beralih
dari konsep macak, konsep kedua dari filosofi perempuan adalah manak atau
memiliki keturunan. Jika dibandingkan dengan pemikiran jaman dahulu yang
menganggap perempuan sebagai aib keluarga jika tidak memiliki keturunan,
perempuan masa kini dirasa lebih terbuka dalam menanggapi permasalahan klise
ini. Memiliki keturunan/anak merupakan sebuah tanggung jawab yang besar dan
harus siap dihadapi oleh perempuan maupun laki-laki setelah menikah. Ada
perempuan yang siap dengan tanggung jawab tersebut tetapi ada pula yang memilih
untuk hidup independen tanpa anak bahkan tanpa pendamping hidup. Anggapan
mengenai perempuan sebagai objek laki-laki yang selalu dapat dibuahi untuk
menghasilkan generasi penerus sudah mulai luntur mengikuti arus perkembangan
jaman. Jika perempuan tidak dapat menghasilkan keturunan dikarenakan beberapa
faktor, teknologi dapat membantunya menghasilkan keturunan dengan program bayi
tabung. Namun, tidak memiliki anak saat ini dirasa bukan perkara yang besar.
Tidak sedikit perempuan yang memutuskan untuk hidup secara independen, tanpa
laki-laki, tanpa anak.
Selain
manak, konsep terakhir adalah masak. Perempuan pada masa lampau diharuskan
dapat memasak untuk memenuhi selera laki-lakinya. Perempuan pada masa lampau
meyakini bahwa salah satu cara memikat hati laki-laki adalah dengan memberikan
kepuasan perut melalui masakan. Sedikit berbeda dengan masa kini, perempuan
tidak harus dapat memasak. Memasak bukanlah suatu kewajiban, namun memasak
menjadi suatu poin tambahan bagi perempuan. Keahlian memasak dapat ditumbuhkan
secara perlahan tanpa harus dipaksakan dan dipertanyakan keperempuanannya.
Dapur bukan menjadi ladang kerja utama bagi perempuan masa kini.
7
dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan tidak harus dapat memasak. Mereka
berpendapat bahwa memasak merupakan bagian dari hobi bukan kewajiban. Mereka
meyakini bahwa tidak masalah kalau perempuan tidak dapat memasak. Pembagian
peran antara laki-laki dan perempuan tidak hanya sebatas laki-laki bekerja dan
perempuan mengurus rumah. Namun, 7 dari 10 laki-laki ini setuju bahwa laki-laki
merupakan seorang bapak rumah tangga yang juga memiliki kewajiban dalam
mengurus rumah tangga beserta dengan urusan perut dan dapur. Dapur bukan lagi
tempat perempuan bekerja. Perkembangan teknologi semakin memudahkan laki-laki
dan perempuan untuk memuaskan isi perut tanpa asap, bau, dan kehambaran rasa
masakan.
Ketiga
konsep tentang perempuan pada masa lampau sudah mulai luntur termakan jaman.
Perempuan masa kini lebih mandiri dan lebih berani mengungkapkan ekspresi
mereka tentang apa yang mereka rasakan tanpa harus terbentur budaya macam-macam.
Selain dari konsep macak, manak, dan masak, para responden laki-laki memandang
perempuan masa kini tidak jauh berbeda dari masa lampau yang mengatakan bahwa
perempuan harus dapat melakukan segala sesuatu (multitasking). Namun, konsep
multitasking ini berbeda di mana laki-laki meminta perempuan untuk dapat
melakukan segala sesuatu tanpa harus bergantung kepada laki-laki, contohnya
adalah bekerja. 7 dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan harus bekerja dan
memiliki karir. Perempuan harus dapat ikut menopang kehidupan berkeluarga.
Perempuan yang berkarir menjadi sebuah nilai tambahan bagi para laki-laki,
karena dianggap sebagai perempuan yang mandiri dan memiliki visi yang jelas
dalam kehidupan. Selain berkarir, 7 dari 10 laki-laki ini menyetujui bahwa perempuan harus mengenyam
pendidikan yang tinggi. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan penyalur
pendidikan pertama bagi generasi penerus. Oleh karena itu munculah istilah
seorang anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas.
Menjadi
perempuan modern di mata laki-laki ternyata lebih rumit dibandingkan pada masa
lampau. Rumit karena perempuan dituntut untuk dapat melakukan segalanya dengan
teratur, seperti berpenampilan menarik untuk bekerja, mengenyam pendidikan
tinggi, menjadi ibu yang cerdas, dan mandiri dalam melakukan segala hal tanpa
bergantung kepada laki-laki. Namun, perempuan modern bukanlah lagi menjadi
objek semata bagi laki-laki, melainkan memiliki kesetaraan dalam berbagai hal.
Bukan lagi Adam diciptakan untuk Hawa melainkan Hawa diciptakan untuk Adam yang
berarti perempuan bertugas untuk menopang kehidupan laki-lakinya dan menjadikan perempuan masa kini
dianggap lebih mandiri dan dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa
bergantung dengan laki-laki.
Referensi
Warto.1997.
Wanita Pabrikan : Simbol Pergeseran Status Wanita Desa dalam Abdullah, Irwan.
Sangkan Paran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Zoetmulder,
P.J. 1982. Old Javanese--English Dictionary. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff


