| JOMO di tengah maraknya pemberitaan buruk (create by gemini ai) |
Akhir-akhir ini media sosial seringkali dipenuhi dengan berbagai macam informasi yang menguras emosi dan pikiran. Permasalahan makan bergizi gratis, korupsi tiada henti, kebejatan para pejabat, hingga 19 juta lapangan pekerjaan yang tidak kunjung terealisasikan membuat kita sering bertanya ‘Ijazahnya asli gak sih?’ eh, bukan itu intinya.
Setiap hari seakan tidak ada berita baik di negeri tercinta ini. Sekalinya ada, hanya bisa membuat kita iri karena isinya pencapaian puncak karir orang lain (yang entah bagaimana caranya tiba-tiba jadi komisaris). Tidak hanya itu, melemahnya rupiah dan meningkatnya biaya hidup semakin membuat kita lelah dan cemas akan keadaan. Seringkali kita berpikir apakah masih ada masa depan bagi bangsa ini? Kenyataannya yang tidak suka dengan negara ini, silahkan pergi cari negara lain. Sungguh dilemma menjadi WNI saat ini.
Ketika Informasi Tak Lagi Edukatif, Tapi Menguras Energi
Media sosial menawarkan berbagai macam kemudahan bagi setiap orang untuk mencari dan memberikan informasi. Tak disangka, kemudahan yang diberikan ini menjadikan sebuah adiksi bagi setiap orang untuk selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi. Setiap orang seolah dipaksa untuk harus selalu up to date akan setiap pemberitaan yang ada. Tak heran jika kebiasaan untuk selalu up to date ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-16 sebagai negara dengan durasi scrolling media sosial tertinggi di dunia. Menurut laporan Global Digital Reports 2026, rata-rata screen time penduduk global mencapai 2 jam 39 menit per hari, namun di Indonesia mencapai 3 jam 7 menit per hari melampaui rata-rata global tersebut.
Adiksi untuk selalu up to date ini mengubah skala prioritas kebutuhan manusia. Saat ini, prioritas utama adalah menjadi manusia yang selalu up date akan keadaan. Secara tidak langsung kita rela untuk mengorbankan waktu istirahat hanya untuk memastikan kita tidak tertinggal satu isu pun di setiap lini masa. Menjadi manusia paling up to date seolah-olah menjadi sebuah kunci kelangsungan hidup di era ini. Namun, tanpa disadari menjadi up to date adalah pembuktian bahwa kita berhasil terjebak oleh algoritma. Di mana perilaku ini seringkali kita kenal dengan istilah doomscrolling.
Ibarat berjalan mengelilingi kota yang luluh lantak, kita selalu ingin tahu apa yang terjadi dalam kota itu. Namun, tanpa disadari kita terjebak dalam keingintahuan serta terlena dalam emosi negative yang merasuk perlahan dalam diri kita. Begitu pula saat kita melakukan doomscrolling, kita dipaksa untuk terus up date dan terjebak mengonsumsi tragedi demi tragedi setiap harinya. Emosi kita seakan divalidasi oleh algoritma sehingga kita selalu disuguhi umpan berita yang memancing emosi.
Doomscrolling akan selalu memicu dopamin penasaran pada otak kita. Hal ini menjadikan kita selalu ingin tahu tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Selain itu, semakin kita melihat berbagai macam video maka hal ini akan membuat kita semakin waspada atau bersiap-siap akan sesuatu. Kita jadi memikirkan banyak kemungkinan yang mungkin akan terjadi atau mungkin juga tidak. Hal ini justru membuat energi psikis kita menjadi lelah bahkan terkuras habis.
Tidak up to date bukan berarti tidak peduli
Saat doomscrolling kita akan selalu mengatakan “setiap hari tidak ada berita baik di negara ini!” Ya, memang. Semakin kita mencari tahu, semakin ada saja gebrakan yang terjadi. Situasi di negeri ini sangat melelahkan untuk disaksikan. Kita tidak dapat mengontrol keputusan atau arah kebijakan negara ini. Namun, kita tetap memiliki kontrol penuh atas apa yang masuk ke dalam kepala kita. Perlu diingat bahwa keadaan di negeri ini sudah buruk, sehingga kita jangan memperburuk pikiran kita sendiri melamunkan hal yang tidak bisa kita ubah.
Mungkin bagi sebagian orang, menjadi up date adalah sebuah keharusan. Setiap berita baru bermunculan, ia akan muncul sebagai komentator bersinergi dengan komentator lainnya. Hal ini juga tidak disalahkan, karena pada era media sosial ini, suara masyarakat salah satunya dipersatukan melalui kolom komentar. Namun, bagaimana jika kita tidak memberikan komentar apapun? Hal ini pun juga sebagai bentuk perlawanan.
Perlawanan? Sejak kapan diam menjadi sebuah bentuk perlawanan? Sejak diam menjadi sebuah upaya merebut kembali kedaulatan atas pikiran kita sendiri. Diam dan tidak mengikuti arus informasi yang datang secara berlebihan membuat kita lebih tidak mudah terdistraksi oleh berbagai macam drama pengalihan isu. Kita menjadi memiliki waktu untuk berpikir lebih kritis akan suatu isu maupun kebijakan absurd tanpa perlu menghabiskan banyak energi dan emosi di kolom komentar.
Diam dan mengambil jarak pada pemberitaan bukan berarti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Bagi sebagian dari kita, ketidaktahuan akan sebuah pemberitaan bukanlah sebuah wujud apatisme. Namun, hal ini menjadi sebuah cara untuk tetap bertahan dalam berjuang menanggung mimpi buruk yang jauh lebih nyata di kehidupan sehari-hari. Kehilangan pekerjaan disaat kondisi yang begitu sulit untuk mencari pekerjaan kembali ditengah naiknya biaya hidup menjadikan beberapa dari kita tidak sempat untuk sekedar up to date dalam pemberitaan. Merekalah bagian dari korban dari setiap pemberitaan yang disiarkan.
Seni bertahan di luar linimasa
Pada kenyataanya, pemberitaan buruk akan terus bergulir dan menjadikan kita perlahan lupa akan berita buruk lainnya. Namun, berjarak dengan pemberitaan bukan berarti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Berjarak menjadi sebuah cara untuk dapat tetap bertahan serta berjuang dalam menanggung mimpi buruk yang jauh lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, informasi akan terus bergulir setiap saat tanpa henti. Banyaknya informasi yang kita dapatkan akan menjauhkan kita dari kebenaran yang sebenarnya. Setiap orang berlomba untuk saling serang satu sama lain, namun mereka lupa bahwa tidak satupun kebenaran diperjuangkan. Terkadang, diam adalah salah satu cara untuk bertahan dalam dunia virtual masa kini. Disinilah peran Joy Of Missing Out (JOMO) hadir untuk membuat kita seakan lebih gembira diatas ketidaktahuan kita. JOMO seakan memberikan kita ruang untuk bernafas dari kebisingan dunia. Pemberitaan buruk akan terus bergulir, namun ketenangan jiwa tidak akan menghampiri dalam setiap keriuhan yang ada.
Disinilah seninya. Diam tanpa perlawanan merupakan salah satu usaha untuk tetap dapat melawan di dunia nyata. Negara ini butuh aksi nyata. Berbicara di media sosial memang akan mengundang engagement yang tinggi. Namun, melawan di dunia nyata dengan menyadarkan kelompok kecil masyarakat tentang kondisi negara yang tidak semakin membaik merupakan sebuah kegembiraan kecil di tengah bobroknya rezim ini.
Oleh karenanya, Joy of missing out di tengah mimpi buruk WNI seakan memberikan kita sebuah ruang untuk sekedar berpikir. Negara saat ini bukanlah yang mementingkan kepentingan rakyat diatas segalanya. Maka, inilah saatnya kita memperjuangkan kenyataan hidup dengan tetap bertahan, tetap hidup dan tetap waras.
















INSTAGRAM
ARCHIVE
The Electronic Album
Melihat fotografi dalam berbagai macam sudut pandang.