Joy of Missing Out di Era Mimpi Buruk WNI

 

JOMO di tengah maraknya pemberitaan buruk (create by gemini ai)

Akhir-akhir ini media sosial seringkali dipenuhi dengan berbagai macam informasi yang menguras emosi dan pikiran. Permasalahan makan bergizi gratis, korupsi tiada henti, kebejatan para pejabat, hingga 19 juta lapangan pekerjaan yang tidak kunjung terealisasikan membuat kita sering bertanya ‘Ijazahnya asli gak sih?’ eh, bukan itu intinya. 

Setiap hari seakan tidak ada berita baik di negeri tercinta ini. Sekalinya ada, hanya bisa membuat kita iri karena isinya pencapaian puncak karir orang lain (yang entah bagaimana caranya tiba-tiba jadi komisaris). Tidak hanya itu, melemahnya rupiah dan meningkatnya biaya hidup semakin membuat kita lelah dan cemas akan keadaan. Seringkali kita berpikir apakah masih ada masa depan bagi bangsa ini? Kenyataannya yang tidak suka dengan negara ini, silahkan pergi cari negara lain. Sungguh dilemma menjadi WNI saat ini. 

Ketika Informasi Tak Lagi Edukatif, Tapi Menguras Energi

Media sosial menawarkan berbagai macam kemudahan bagi setiap orang untuk mencari dan memberikan informasi. Tak disangka, kemudahan yang diberikan ini menjadikan sebuah adiksi bagi setiap orang untuk selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi. Setiap orang seolah dipaksa untuk harus selalu up to date akan setiap pemberitaan yang ada. Tak heran jika kebiasaan untuk selalu up to date ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-16 sebagai negara dengan durasi scrolling media sosial tertinggi di dunia. Menurut laporan Global Digital Reports 2026, rata-rata screen time penduduk global mencapai 2 jam 39 menit per hari, namun di Indonesia mencapai 3 jam 7 menit per hari melampaui rata-rata global tersebut. 

Adiksi untuk selalu up to date ini mengubah skala prioritas kebutuhan manusia. Saat ini, prioritas utama adalah menjadi manusia yang selalu up date akan keadaan. Secara tidak langsung kita rela untuk mengorbankan waktu istirahat hanya untuk memastikan kita tidak tertinggal satu isu pun di setiap lini masa. Menjadi manusia paling up to date seolah-olah menjadi sebuah kunci kelangsungan hidup di era ini. Namun, tanpa disadari menjadi up to date  adalah pembuktian bahwa kita berhasil terjebak oleh algoritma. Di mana perilaku ini seringkali kita kenal dengan istilah doomscrolling

Ibarat berjalan mengelilingi kota yang luluh lantak, kita selalu ingin tahu apa yang terjadi dalam kota itu. Namun, tanpa disadari kita terjebak dalam keingintahuan serta terlena dalam emosi negative yang merasuk perlahan dalam diri kita. Begitu pula saat kita melakukan doomscrolling, kita dipaksa untuk terus up date dan terjebak mengonsumsi tragedi demi tragedi setiap harinya. Emosi kita seakan divalidasi oleh algoritma sehingga kita selalu disuguhi umpan berita yang memancing emosi. 

Doomscrolling akan selalu memicu dopamin penasaran pada otak kita. Hal ini menjadikan kita selalu ingin tahu tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Selain itu, semakin kita melihat berbagai macam video maka hal ini akan membuat kita semakin waspada atau bersiap-siap akan sesuatu. Kita jadi memikirkan banyak kemungkinan yang mungkin akan terjadi atau mungkin juga tidak. Hal ini justru membuat energi psikis kita menjadi lelah bahkan terkuras habis. 

Tidak up to date bukan berarti tidak peduli

Saat doomscrolling kita akan selalu mengatakan “setiap hari tidak ada berita baik di negara ini!” Ya, memang. Semakin kita mencari tahu, semakin ada saja gebrakan yang terjadi. Situasi di negeri ini sangat melelahkan untuk disaksikan. Kita tidak dapat mengontrol keputusan atau arah kebijakan negara ini. Namun, kita tetap memiliki kontrol penuh atas apa yang masuk ke dalam kepala kita. Perlu diingat bahwa keadaan di negeri ini sudah buruk, sehingga kita jangan memperburuk pikiran kita sendiri melamunkan hal yang tidak bisa kita ubah. 

Mungkin bagi sebagian orang, menjadi up date adalah sebuah keharusan. Setiap berita baru bermunculan, ia akan muncul sebagai komentator bersinergi dengan komentator lainnya. Hal ini juga tidak disalahkan, karena pada era media sosial ini, suara masyarakat salah satunya dipersatukan melalui kolom komentar. Namun, bagaimana jika kita tidak memberikan komentar apapun? Hal ini pun juga sebagai bentuk perlawanan. 

Perlawanan? Sejak kapan diam menjadi sebuah bentuk perlawanan? Sejak diam menjadi sebuah upaya merebut kembali kedaulatan atas pikiran kita sendiri. Diam dan tidak mengikuti arus informasi yang datang secara berlebihan membuat kita lebih tidak mudah terdistraksi oleh berbagai macam drama pengalihan isu. Kita menjadi memiliki waktu untuk berpikir lebih kritis akan suatu isu maupun kebijakan absurd tanpa perlu menghabiskan banyak energi dan emosi di kolom komentar. 

Diam dan mengambil jarak pada pemberitaan bukan berarti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Bagi sebagian dari kita, ketidaktahuan akan sebuah pemberitaan bukanlah sebuah wujud apatisme. Namun, hal ini menjadi sebuah cara untuk tetap bertahan dalam berjuang menanggung mimpi buruk yang jauh lebih nyata di kehidupan sehari-hari. Kehilangan pekerjaan disaat kondisi yang begitu sulit untuk mencari pekerjaan kembali ditengah naiknya biaya hidup menjadikan beberapa dari kita tidak sempat untuk sekedar up to date dalam pemberitaan. Merekalah bagian dari korban dari setiap pemberitaan yang disiarkan. 

Seni bertahan di luar linimasa

Pada kenyataanya, pemberitaan buruk akan terus bergulir dan menjadikan kita perlahan lupa akan berita buruk lainnya. Namun, berjarak dengan pemberitaan bukan berarti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Berjarak menjadi sebuah cara untuk dapat tetap bertahan serta berjuang dalam menanggung mimpi buruk yang jauh lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam hal ini, informasi akan terus bergulir setiap saat tanpa henti. Banyaknya informasi yang kita dapatkan akan menjauhkan kita dari kebenaran yang sebenarnya. Setiap orang berlomba untuk saling serang satu sama lain, namun mereka lupa bahwa tidak satupun kebenaran diperjuangkan. Terkadang, diam adalah salah satu cara untuk bertahan dalam dunia virtual masa kini. Disinilah peran Joy Of Missing Out (JOMO) hadir untuk membuat kita seakan lebih gembira diatas ketidaktahuan kita. JOMO seakan memberikan kita ruang untuk bernafas dari kebisingan dunia. Pemberitaan buruk akan terus bergulir, namun ketenangan jiwa tidak akan menghampiri dalam setiap keriuhan yang ada. 

Disinilah seninya. Diam tanpa perlawanan merupakan salah satu usaha untuk tetap dapat melawan di dunia nyata. Negara ini butuh aksi nyata. Berbicara di media sosial memang akan mengundang engagement yang tinggi. Namun, melawan di dunia nyata dengan menyadarkan kelompok kecil masyarakat tentang kondisi negara yang tidak semakin membaik merupakan sebuah kegembiraan kecil di tengah bobroknya rezim ini. 

Oleh karenanya, Joy of missing out di tengah mimpi buruk WNI seakan memberikan kita sebuah ruang untuk sekedar berpikir. Negara saat ini bukanlah yang mementingkan kepentingan rakyat diatas segalanya. Maka, inilah saatnya kita memperjuangkan kenyataan hidup dengan tetap bertahan, tetap hidup dan tetap waras. 

 

Being a Woman

Being a Woman
Yovita Amalia, 2019


The song Sabda Alam, Created by Ismail Marzuki, has a strong picture of women at that time. The description of women living under the auspices of men. This is reinforced by the law of creation in which women are created from the ribs of men, which makes women always the second figure of creation. As a second figure, women are considered to have no right to participate in advancing life at that time. Patriarchal culture still plays an active role in determining everything. The position, thoughts and opinions of women have not gained a place in society, women have not been able to move as individuals who are free to obtain rights and carry out their obligations as human beings at that time. Gender inequality is a major problem faced by women.

Dad Murniah, a linguist wrote in his journal that women or women have been fenced in with the cultural norms that shape them. For example in Javanese culture, the word "wanita" has its own meaning, "wani" means brave and "tata" means to set. The figure of a woman in Javanese culture is defined as a person who dares to be governed by men. Women will be considered noble if they do everything what men want, in other words women must submit to men. This is commensurate with what was written by Zoetmulder (1982) in the "Old Javanese English Dictionary" which describes women as "something men want". Women are only considered as objects of men.

Before modernity hit life today, as an object of men women must have a lot of expertise, especially in terms of managing the household. As a male companion in domestic life, women have many roles such as looking after the house, taking care of their husbands, giving birth, and raising children. Javanese philosophy says that women's duties are make up, give birth, and cooking. Women in the family must be able to make themselves up so that they always look beautiful, attractive, and charming. This is related to the appearance of women who must always look attractive so they can hold their men happy at home. In addition, women must be able to produce offspring and maintain and look after their offspring. Women also have to be able to cook or take care of everything in the kitchen. Women must be able to meet men's tastes in eating and drinking. This is supported by the statement of Warto (1997) in his book Sangkan Paran Gender which says that women of ancient times must be able to do make up, give birth and cook. If women cannot do these three aspects, the woman is considered a family disgrace. This clearly illustrates that the position of ancient women in the patriarchal system was regarded as backward.

The strong role of patriarchy in the past made women always have to submit to men. But if seen in the present, do men actually feel that they are making women as objects? What if the concept of women's philosophy is taken from the perspective of men? Too naive to discuss women in terms of their own perspective. Therefore 10 men of various ages and occupations are trapped in conceptualizing complicated women's philosophies. If seen before, in the past men seemed to play a role as suspects in the lives of women who felt victimized as the object of their satisfaction. But how do men conceptualize women today? New questions arise with different times and different stories. Do men still regard modern women as objects for men? For men, modern women must still look beautiful and attractive to satisfy their desires? Do men see that modern women still have to be busy with their stomach and kitchen? Do men demand that modern women still have to take care of the household and look after children? Can the views of men on modern women be more than the rules of make up, cook, and give birth?

Being a Woman
Yovita Amalia, 2019


The media form women as beautiful, white, long-haired, and slim. Media syringe mass communication theory works effectively in this regard. According to Nurudin (2014) this theory says that media have the idea that audiences can be formed according to the wishes of the media. The image formation of women in the eyes of the media has had a big impact on some women. This makes many women do or shape themselves like a female figure from the formation of the media. The media seems to have their own beauty standards that make women feel "perfect" if they have successfully met these standards. But the actual standard of beauty possessed by this media forms a stigma and stereotype for the audience, especially women.

Women who cannot meet the media's beauty standards are considered not "perfect". Slowly comes the term body shaming or a criticism of one's body shape. Not infrequently those affected by body shaming experience mental health disorders due to fostered criticism about their body shape. As reported in bullyingstatistics.org body shaming has a big and worrying impact, as many as 94 percent of women have been affected by body shaming. In fact, if beauty standards are not measured by the media, women can live more comfortably and safely.

If you look at it from the point of view of men, 8 out of 10 men state that the essence of women is to make themselves self-fulfilled. They are more of the opinion that men feel they have high prestige when they get beautiful women, have ideal body shapes and are good at dressing themselves up. For them, make up is a powerful weapon for women to melt men's hearts. They believe that beautiful women are women who fit the criteria of women in general, namely white, straight hair, slim body and sharp nose. Whereas 2 out of 10 men feel make up is not as a means of capturing men's hearts. They feel that make up is a double-edged sword that can hide the authenticity of a woman's face. They have no problem with body shape or their ability to make up. This is because they believe that the selection of ideal female criteria is one form of body shaming itself. 2 out of 10 men believe that women are considered beautiful not only from the beautiful body shape and beautiful face makeup, but that beauty is seen from several supporting aspects such as education and character.

Turning from the concept of self-decoration, the second concept of women's philosophy is to have offspring. When compared with the old-fashioned thinking that regards women as a family disgrace if they do not have children, today's women are more open in responding to this cliché problem. Having children / descendants is a big responsibility and must be ready to be faced by both women and men after marriage. There are women who are ready for these responsibilities, but there are also those who choose to live independently without children even without a companion. The notion of women as objects of men that can always be fertilized to produce the next generation has begun to fade with the flow of time. If a woman cannot produce offspring due to several factors, technology can help her produce offspring with an IVF program. However, not having children at this time is not a big thing. Not a few women who decide to live independently, without men, without children.

Besides producing offspring, the last concept is cooking. Women in the past were required to be able to cook to meet their male tastes. Women in the past believed that one way to captivate men's hearts was to provide stomach satisfaction through cooking. Slightly different from today, women do not have to be able to cook. Cooking is not an obligation, but cooking becomes an additional point for women. Cooking skills can be grown slowly without being forced and questioned about her womanhood. The kitchen is not the main field of work for women today.

7 out of 10 men agree that women should not be able to cook. They argue that cooking is part of a hobby not an obligation. They believe that it doesn't matter if women can't cook. The division of roles between men and women is not only limited to men working and women taking care of the house. However, 7 out of 10 men agree that men are a household father who also has an obligation to take care of the household along with stomach and kitchen matters. The kitchen is no longer a place for women to work. Technological developments make it easier for men and women to satisfy smokeless stomach odors and smells of taste.

Being a Woman
Yovita Amalia, 2019

The three concepts about women in the past have started to fade with time. Today's women are more independent and more courageous in expressing their expressions about what they feel without having to hit various cultures. Apart from the concept of macak, manak, and cooking, male respondents see that women today are not much different from the past which said that women must be able to do everything (multitasking). However, this multitasking concept is different in that men ask women to be able to do everything without having to depend on men, for example work. 7 out of 10 men agree that women must work and have a career. Women must be able to support family life. Career women are an added value for men, because they are considered as women who are independent and have a clear vision in life. In addition to a career, 7 out of 10 men agreed that women should receive a higher education. This is because women are the first educational channel for the next generation. Therefore the term emerges of an intelligent child born from an intelligent mother.

Being a modern woman in the eyes of men turned out to be more complicated than in the past. It's complicated because women are required to be able to do everything regularly, such as attractive appearance to work, higher education, being smart and independent mothers in doing things without relying on men. However, modern women are no longer just objects for men, but have equality in various ways. Adam was no longer created for Eve but Eve was created for Adam, which meant that women were tasked with supporting the lives of their men and making today's women more independent and able to solve their own problems without depending on men.

Menjadi Perempuan

Menjadi Perempuan
Yovita Amalia, 2019






Diciptakan alam pria dan wanita
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita

            Lagu Sabda Alam, Ciptaan Ismail Marzuki ini memiliki gambaran kuat tentang perempuan kala itu. Gambaran tentang perempuan yang hidup di bawah naungan para lelaki. Hal ini dikuatkan dengan hukum penciptaan di mana perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang menjadikan perempuan selalu menjadi sosok kedua dari penciptaan. Sebagai sosok kedua, perempuan dianggap tidak memiliki hak untuk berperan serta memajukan kehidupan kala itu. Budaya patriarki masih berperan aktif dalam menentukan segala hal. Kedudukan, pemikiran serta pendapat perempuan belum mendapatkan tempat dalam masyarakat, perempuan belum dapat bergerak sebagai individu yang bebas untuk mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya sebagai manusia kala itu. Ketimpangan gender menjadi permasalahan besar yang dihadapi oleh perempuan.
            Dad Murniah, seorang badan bahasa menuliskan dalam jurnalnya bahwa perempuan atau wanita telah dipagari dengan norma-norma budaya yang membentuk mereka. Contohnya dalam budaya masyarakat Jawa, kata ‘wanita’ memiliki arti tersendiri yaitu “wani” berarti berani dan “tata” berarti atur. Sosok wanita dalam budaya Jawa diartikan sebagai pribadi yang berani diatur oleh laki-laki. Wanita akan dianggap mulia jika melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh laki-laki, dalam kata lain wanita harus tunduk kepada laki-laki. Hal ini sepadan dengan yang dituliskan oleh Zoetmulder (1982) dalam "Old Javanese English Dictionary" yang mendeskripsikan wanita sebagai ‘sesuatu yang diinginkan oleh pria’. Wanita hanya dianggap sebagai objek laki-laki.

Menjadi Perempuan
Yovita Amalia,2019

            Sebelum modernitas melanda kehidupan saat ini, sebagai objek laki-laki wanita harus memiliki banyak keahlian, khususnya dalam hal mengurus rumah tangga. Sebagai pendamping laki-laki dalam kehidupan rumah tangga, wanita memiliki banyak peran seperti menjaga rumah, mengurus suami,  melahirkan, membesarkan anak, dan memilihara anak. Falsafah Jawa mengatakan bahwa tugas perempuan adalah macak, manak, dan masak. Perempuan dalam keluarga harus dapat macak atau berias diri agar selalu terlihat cantik, menarik, dan mempesona. Hal ini dikaitkan dengan penampilan perempuan yang harus selalu terlihat menarik agar dapat menahan laki-lakinya untuk senang dirumah. Selain itu, perempuan harus dapat manak atau menghasilkan keturunan serta memelihara dan menjaga keturunannya. Perempuan juga harus dapat memasak atau mengurusi segala hal yang berbau dapur. Perempuan harus dapat memenuhi selera laki-laki dalam hal makan dan minum. Hal ini didukung dengan pernyataan Warto (1997) dalam bukunya Sangkan Paran Gender yang mengatakan bahwa perempuan jaman dahulu harus dapat melakukan macak, manak dan masak. Jika perempuan tidak dapat melakukan tiga aspek tersebut maka perempuan tersebut dianggap sebagai aib keluarga. Hal ini sangat jelas menggambarkan  kedudukan perempuan jaman dulu dalam sistem patriarki dianggap sebagai yang terbelakang.  
Peran patriarki yang kuat jaman dulu menjadikan perempuan selalu harus tunduk kepada para laki-laki. Namun bila dilihat di masa kini, apakah  sebenarnya laki-laki merasa menjadikan perempuan sebagai objeknya? Bagaimana jika pengkonsepan filosofi perempuan diambil dari sudut pandang laki-laki ? Terlalu naif jika membahas perempuan dari segi perempuan itu sendiri. Maka dari itu terkumpulah 10 laki-laki dari berbagai macam usia dan pekerjaan yang terjerat dalam mengkonsepkan filosofi perempuan yang rumit. Jika dilihat sebelumnya, pada masa lampau laki-laki seakan berperan sebagai tersangka dalam kehidupan perempuan yang merasa dijadikan korban sebagai objek kepuasan mereka. Namun, bagaimana laki-laki mengkonsepkan perempuan masa kini ? Pertanyaan baru bermunculan dengan jaman yang berbeda dan cerita yang berbeda pula. Apakah laki-laki masih menganggap perempuan modern sebagai objek bagi laki-laki ? Apakah bagi laki-laki, perempuan modern harus tetap tampil cantik dan menarik untuk memuaskan hasrat mereka? Apakah laki-laki melihat perempuan modern masih harus sibuk dengan urusan perut dan dapur? Apakah laki-laki menuntut perempuan modern masih harus mengurus rumah tangga dan menjaga anak ? Apakah pandangan laki-laki kepada perempuan modern bisa lebih dari aturan macak, masak, manak?
Dimulai dari konsep pertama, macak  atau berias diri.  Jika perempuan jaman dahulu macak untuk menarik hati, mempertahankan dan memuaskan laki-lakinya, perempuan jaman sekarang menggunakan istilah macak lebih untuk mengikuti perkembangan jaman. Konsep macak saat ini lebih menjadikan banyaknya gebrakan dalam dunia fashion dan make up yang sangat menggiyurkan para perempuan di seluruh penjuru dunia, termasuk perempuan di Indonesia. Seperti yang dilansir oleh Kompas pada Agustus 2018, industri kecantikan di Indonesia tumbuh pesat hingga 16 persen. Hal ini dilihat sebagai sebuah kesadaran perempuan untuk mempercantik diri dengan bantuan kosmetik. Tidak hanya kosmetik, berbagai cara untuk mempercantik diri pun mulai bermunculan seperti sulam alis, sulam bibir, hingga sedot lemak berhasil menarik hati tidak sedikit perempuan. Hal ini diperkuat dengan media yang membentuk perempuan menjadi sosok yang ideal, bukan hanya di mata laki-laki namun di mata publik.
Media membentuk perempuan sebagai sosok yang cantik, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh langsing. Teori komunikasi massa jarum suntik media bekerja efektif dalam hal ini. Menurut Nurudin (2014) teori ini mengatakan bahwa media memiliki pemikiran bahwa khalayak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan media. Pembentukan citra perempuan dimata media ini telah memberikan dampak besar bagi sebagian perempuan. Hal ini menjadikan banyak perempuan melakukan atau membentuk diri mereka seperti sosok perempuan hasil pembentukan media. Media seakan memiliki standar kecantikannya sendiri yang membuat para perempuan merasa “sempurna” jika sudah berhasil memenuhi standar tersebut. Namun sebenarnya standar kecantikan yang dimiliki media ini membentuk stigma dan stereotype bagi khalayak khususnya para perempuan.
Perempuan yang tidak dapat memenuhi standar kecantikan media ini dianggap tidak “sempurna”. Perlahan munculah istilah body shaming atau sebuah kritik tentang bentuk tubuh seseorang. Tidak jarang mereka yang terkena body shaming ini mengalami gangguan kesehatan mental akibat terpupuk kritik mengenai bentuk tubuh mereka. Seperti yang dilansir dalam bullyingstatistics.org body shaming berdampak besar dan mengkhawatirkan, sebanyak 94 persen perempuan telah terdampak body shaming. Padahal, jika standar kecantikan tidak diukur oleh media, perempuan dapat hidup lebih nyaman dan aman.
Menjadi Perempuan
Yovita Amalia, 2019

Jika melihat dari sudut pandang laki-laki, 8 dari 10 laki-laki menyatakan bahwa hakikat perempuan adalah berias diri untuk kepuasan mereka. Mereka lebih banyak berpendapat bahwa laki-laki merasa memiliki prestise yang tinggi bila mendapatkan perempuan yang cantik, memiliki bentuk badan yang ideal dan pintar merias diri. Bagi mereka make up merupakan senjata ampuh perempuan untuk meluluhkan hati laki-laki. Mereka meyakini bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang sesuai dengan kriteria perempuan pada umumnya yaitu putih, rambut lurus, badan langsing dan hidung mancung. Sedangkan 2 dari 10 laki-laki merasa make up bukanlah sebagai sarana pemikat hati laki-laki. Mereka merasa bahwa make up merupakan pedang bermata dua yang dapat menyembunyikan keaslian wajah perempuan. Mereka tidak mempermasalahkan mengenai bentuk tubuh maupun kemampuan mereka dalam merias diri. Hal ini dikarenakan mereka meyakini bahwa pemilihan kriteria perempuan  yang ideal adalah salah satu bentuk dari body shaming itu sendiri. 2 dari 10 laki-laki ini menyakini bahwa perempuan dianggap cantik tidak hanya dari bentuk tubuh yang indah dan riasan wajah yang molek, melainkan cantik itu dilihat dari beberapa aspek pendukung seperti pendidikan dan sifat.
Beralih dari konsep macak, konsep kedua dari filosofi perempuan adalah manak atau memiliki keturunan. Jika dibandingkan dengan pemikiran jaman dahulu yang menganggap perempuan sebagai aib keluarga jika tidak memiliki keturunan, perempuan masa kini dirasa lebih terbuka dalam menanggapi permasalahan klise ini. Memiliki keturunan/anak merupakan sebuah tanggung jawab yang besar dan harus siap dihadapi oleh perempuan maupun laki-laki setelah menikah. Ada perempuan yang siap dengan tanggung jawab tersebut tetapi ada pula yang memilih untuk hidup independen tanpa anak bahkan tanpa pendamping hidup. Anggapan mengenai perempuan sebagai objek laki-laki yang selalu dapat dibuahi untuk menghasilkan generasi penerus sudah mulai luntur mengikuti arus perkembangan jaman. Jika perempuan tidak dapat menghasilkan keturunan dikarenakan beberapa faktor, teknologi dapat membantunya menghasilkan keturunan dengan program bayi tabung. Namun, tidak memiliki anak saat ini dirasa bukan perkara yang besar. Tidak sedikit perempuan yang memutuskan untuk hidup secara independen, tanpa laki-laki, tanpa anak.
Selain manak, konsep terakhir adalah masak. Perempuan pada masa lampau diharuskan dapat memasak untuk memenuhi selera laki-lakinya. Perempuan pada masa lampau meyakini bahwa salah satu cara memikat hati laki-laki adalah dengan memberikan kepuasan perut melalui masakan. Sedikit berbeda dengan masa kini, perempuan tidak harus dapat memasak. Memasak bukanlah suatu kewajiban, namun memasak menjadi suatu poin tambahan bagi perempuan. Keahlian memasak dapat ditumbuhkan secara perlahan tanpa harus dipaksakan dan dipertanyakan keperempuanannya. Dapur bukan menjadi ladang kerja utama bagi perempuan masa kini.
7 dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan tidak harus dapat memasak. Mereka berpendapat bahwa memasak merupakan bagian dari hobi bukan kewajiban. Mereka meyakini bahwa tidak masalah kalau perempuan tidak dapat memasak. Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan tidak hanya sebatas laki-laki bekerja dan perempuan mengurus rumah. Namun, 7 dari 10 laki-laki ini setuju bahwa laki-laki merupakan seorang bapak rumah tangga yang juga memiliki kewajiban dalam mengurus rumah tangga beserta dengan urusan perut dan dapur. Dapur bukan lagi tempat perempuan bekerja. Perkembangan teknologi semakin memudahkan laki-laki dan perempuan untuk memuaskan isi perut tanpa asap, bau, dan kehambaran rasa masakan.
Ketiga konsep tentang perempuan pada masa lampau sudah mulai luntur termakan jaman. Perempuan masa kini lebih mandiri dan lebih berani mengungkapkan ekspresi mereka tentang apa yang mereka rasakan tanpa harus terbentur budaya macam-macam. Selain dari konsep macak, manak, dan masak, para responden laki-laki memandang perempuan masa kini tidak jauh berbeda dari masa lampau yang mengatakan bahwa perempuan harus dapat melakukan segala sesuatu (multitasking). Namun, konsep multitasking ini berbeda di mana laki-laki meminta perempuan untuk dapat melakukan segala sesuatu tanpa harus bergantung kepada laki-laki, contohnya adalah bekerja. 7 dari 10 laki-laki setuju bahwa perempuan harus bekerja dan memiliki karir. Perempuan harus dapat ikut menopang kehidupan berkeluarga. Perempuan yang berkarir menjadi sebuah nilai tambahan bagi para laki-laki, karena dianggap sebagai perempuan yang mandiri dan memiliki visi yang jelas dalam kehidupan. Selain berkarir, 7 dari 10 laki-laki ini  menyetujui bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan yang tinggi. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan penyalur pendidikan pertama bagi generasi penerus. Oleh karena itu munculah istilah seorang anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas.
Menjadi perempuan modern di mata laki-laki ternyata lebih rumit dibandingkan pada masa lampau. Rumit karena perempuan dituntut untuk dapat melakukan segalanya dengan teratur, seperti berpenampilan menarik untuk bekerja, mengenyam pendidikan tinggi, menjadi ibu yang cerdas, dan mandiri dalam melakukan segala hal tanpa bergantung kepada laki-laki. Namun, perempuan modern bukanlah lagi menjadi objek semata bagi laki-laki, melainkan memiliki kesetaraan dalam berbagai hal. Bukan lagi Adam diciptakan untuk Hawa melainkan Hawa diciptakan untuk Adam yang berarti perempuan bertugas untuk menopang kehidupan laki-lakinya dan menjadikan perempuan masa kini dianggap lebih mandiri dan dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bergantung dengan laki-laki. 

Referensi
Warto.1997. Wanita Pabrikan : Simbol Pergeseran Status Wanita Desa dalam Abdullah, Irwan. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Zoetmulder, P.J. 1982. Old Javanese--English Dictionary. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff




Hai Kamu, Terimakasih !

Terkadang seseorang yang ada saat ini hanya sebagai perantara kita menuju masa depan, bukan menjadi masa depan.



Hai kamu, terimakasih telah datang mengisi hari-hariku dengan semua candaan, senyuman, bahkan sapaan yang aku belum pernah menemukannya dengan orang lain. Terimakasih telah menjadi seseorang yang selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan semua keluh kesahku setiap hari. Kamu adalah salah satu orang yang banyak mengajarkanku arti hidup, arti berjuang, dan arti bertahan. "Aku yakin kamu bisa melakukan dan mengejar semua mimpimu", katamu di ujung telepon malam itu. Terimakasih telah mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang berguna dalam hidup. 

Aku tak pernah ingat sejak kapan kamu datang mengisi hari-hariku. Sebelum ada kamu, hari-hariku kelabu. Namun, setelah ada kamu hari-hari ku berwarna seperti lampu-lampu yang menyala di malam hari di sudut kota Jogja. Kamu datang membawa pengharapan baru bagi hidupku. Semangat yang selalu hadir dalam dirimu seakan tersalurkan dalam hidupku. 

Banyak sekali cerita yang kau bagikan kepada ku. Banyak pengalaman hidupmu yang berharga yang kau ceritakan padaku. Hingga kau ingin aku juga mendapatkan pengalaman yang sama denganmu. Kau ingin aku merasakan indahnya hidup dengan melakukan banyak hal sebelum akhirnya harus berhenti dan menceritakannya pada Bapa di Surga. 

Namun, salah satu ceritamu yang membuatku terasa sakit adalah saat kamu menceritakan dia, Ya, dia yang telah bersama mu selama 6 tahun belakangan ini. Kamu selalu menceritakan dia, ya dia yang membuatmu meragu akan segala keputusan. Dia yang akan bersanding dengan mu di hadapan Tuhan dan umat dalam waktu yang tidak lama lagi. Dia yang sudah lebih dulu mengisi hatimu. "maaf ya, aku sudah masuk ke dalam kehidupanmu dengan jalan yang seperti ini", katamu di depan rumahku. Bukan, ini bukan salahmu. Ini salahku. Ya, salahku yang telah memberikan mu ruang di hati ku yang sebenarnya aku tau dan aku mengerti bahwa dirimu bukan untukku.

Terimakasih kamu, yang telah menjadikan ku sebagai adik perempuan yang bisa selalu menghiburmu. Aku sangat bahagia ketika aku dapat menyediakan telingaku untuk mendengar ceritamu. Aku sangat bangga ketika aku dapat menyediakan kaki ku untuk berjalan menemani mu kemanapun kau mau saat kau membutuhkan inspirasi. Aku sangat bersyukur karena aku dapat merelakan mu  berbahagia bersamanya dengan mengatakan "Aku akan menjadi tamu yang paling cantik di pesta pernikahan mu esok, karena aku tidak akan melewatkan hari paling berharga di hidupku. Melihat seorang kakak tersayang berbahagia dengan seorang yang telah dipilih untuk menua bersama mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga". 

Aku berterimakasih kepada Tuhan karena aku telah menjadikannya seseorang yang selalu ku sebut dalam doa. Walau ternyata bagi Tuhan kita hanyalah dua orang yang dipertemukan untuk saling menemukan yang lain. Terimakasih dari aku adik yang paling berbahagia :) 

Waktu yang Tepat + Menunggu = Pertemuan





Kau tahu, 

Aku benci menunggu, 

Tapi untuk kau,
Aku bersahabat dengan waktu.



Aku tak pernah tau kapan waktu yang tepat itu datang, kecuali aku mendatangimu dan mengubah kedatangan waktu yang "tepat" itu. Sampai pada akhirnya aku menyadari banyak orang datang ke dalam diriku dalam waktu yang tidak tepat atau aku terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat itu. 

Berbicara mengenai waktu merupakan satu hal yang rumit. Waktu itu sulit ditebak. Kita tidak bisa bermain dengan waktu. Tidak bisa meminta waktu untuk berjalan cepat, apalagi berjalan lambat. Waktu menyimpan seluruh jawaban akan satu hal yang tidak pasti, namun aku selalu menunggu waktu untuk menjawab segala hal yang tidak pasti itu. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. Hingga pada akhirnya tahun demi tahun. Waktu yang tepat itu tidak datang. 

Pada ahirnya tanggal 24 September 2016, aku merasa waktu yang tepat itu datang. Atau ini hanyalah perasaan ku saja ? Pertemuan dengan seseorang yang kudambakan selama 11 tahun itu terjadi. Kejutan akan seseorang yang aku tidak pernah tau kapan dia datang dan dihadirkan untuk ku. Saat waktu yang tepat itu terjadi, aku merasa bahwa aku tidak pernah melakukan apapun saat menunggu waktu yang tepat itu datang. Sampai pada akhirnya seseorang yang aku dampakan selama 11 tahun itu datang kembali. Di waktu yang tepat.  

Pernikahan, menjadi salah satu momen yang tepat untuk pertemuan. Sama seperti 6 tahun lalu, pertemuan terakhir sebelum hari itu. Aku tidak pernah tau kapan seseorang itu datang. Dan pada saat dia datang berdiri di depan ku, aku merasa waktu seakan berhenti sejenak. Tuhan seakan membiarkan ku melepas rindu pada seseorang yang sangat ku dampakan kehadirannya. 

Dia tidak berubah, masih sama seperti yang dulu. Waktu tidak merubahnya. Waktu membiarkannya menjadi seseorang yang sama. Sama seperti dulu. Masih tampak terlihat lucu, manis, dan menyenangkan. Waktu seakan memilih untuk menjaga dia untuk tidak berubah. Aneh memang, tapi menyenangkan. 

Kehadirannya kala itu benar-benar menjawab segala pertanyaan di benak. Dia membuat ku yakin akan sesuatu hal yang aku sendiri tidak mengerti kebenarannya. Dia datang seakan membuatku percaya akan kekuatan waktu. Dia seakan menginginkanku untuk tetap percaya pada waktu. Waktu yang akan mempertemukan kami di keadaan selanjutnya. Waktu yang akan menjadikan segalanya menjadi seperti apa yang ku ingini. 

Melalui waktu dan penantian, aku yakin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untuk hidupku. Melalu orang itu, aku yakin Tuhan memberikan secarik pesan untuk disampaikan. Pesan yang mengantarkan ku untk lebih memahami tentang hidup. Pesan yang berujung kebahagiaan.  

Sembari menunggu waktu yang tepat itu datang kembali, aku melangkah mempersiapkan pertemuan selanjutnya dengan penuh kebahagiaan. Aku yakin saat waktu yang tepat itu datang, kebahagiaan lah yang akan di dapat. 

"Kalau kau percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu suatu hari nanti." Terimakasih waktu telah mempertemukan. Semoga  pertemuan selanjutnya berujung selamanya ~

Dan disini, aku masih tetap menunggu dengan percaya, untuk waktu, untuk pertemuan, untuk kita. 

Teruntuk Aku yang Sedang Belajar

"So teach us something worth knowing,
Bring us back what we've forgot,
Just do your best, we'll do the rest,
And learn until our brains all rot..."


― Harry Potter and the Sorcerer's Stone

Belajar dari hidup. Belajar dari orang lain. Belajar dari pengalaman. Belajar dari diri sendiri. Itulah beberapa hal yang sangat susah untuk aku lakukan dalam beberapa tahun terakhir perjalanan hidupku. Mengapa susah ? Padahal aku hanya diinginkan untuk "belajar".

Belajar itu susah. Iya, susah karena harus masuk ke dalam suatu hal yang tak pernah aku tahu sebelumnya, kemudian harus memahaminya, lalu menerimanya. Rasa malas untuk belajar sering menghantui kehidupan ku. Rasa itu dinamakan "terbiasa". Ya, semua yang aku lakukan adalah suatu hal yang sering, sehingga membuatku malas untuk heran akan sesuatu atau belajar dari sesuatu yang baru. Ibarat sebuah pertunjukan sulap, aku adalah bagian kecil yang berada di dalam bulu-bulu halus seekor kelinci yang keluar dari topi pesulap. Aku seakan telah nyaman dengan kehangatan yang ada di dalam bulu-bulu halus kelinci kecil tersebut. Aku seakan malas memanjat bulu-bulu tersebut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luarnya. Apa yang aku lakukan seolah-olah karena aku telah terbiasa dengan semuanya. Aku malas untuk melakukan segala sesuatu yang tidak pernah aku coba sebelumnya. Malas untuk melakukan segala hal yang aku tidak biasa. Hal ini menyebabkan aku selalu berpikir bahwa semua hal yang dilakukan oleh orang-orang disekitar ku adalah hasil dari "terbiasa" yang berujung "maklum". 

Berawal dari "terbiasa", mulailah muncul pertanyaan "jika semua muncul karena terbiasa, siapakah aku ini ? apakah aku akan sama dengan orang-orang yang selalu melakukan hal karena terbiasa? Jika ya, mengapa aku disini ? untuk apa ?" 

Pertanyaan yang selalu muncul menggelitik pikiran di tengah malam. Pertanyaan "siapakah aku ini" bukan sekedar pertanyaan yang dapat dijawab hanya dengan mengucapkan sebuah nama yang diberikan orang tua kita atau siapapun pada saat kita lahir. Pertanyaan "mengapa aku disini" bukan sekedar  pertanyaan yang dapat dijawab hanya dengan me'dikte' aktivitas sehari-hari. Kedua pertanyaan tersebut sangat susah  untuk aku jawab pada saat ini. 

Namun, berawal dari kedua pertanyaan tersebut aku belajar untuk memahami hidup. Ya, di dalam diri manusia aku percaya terdapat dua kepribadian, "light and dark side". Aku memahami dua kepribadian itu secara positif. Tak selamanya light side membawamu ke dalam kehidupan yang "positif". Tak selamanya light side menjadi sesuatu yang me"malaikat"kan mu. Terkadang light side bisa menjadikanmu sebagai bahan pergunjingan. Terlihat terlalu baik terkadang akan menjadikan orang lain memandang negatif kepribadian kita. Begitu pula pada dark side kepribadian manusia. Tak selamanya dark side dipandang sebagai sesuatu yang negatif yang terdapat dalam diri manusia. Terkadang kita sebagai manusia harus menggunakan dark side kita dalam situasi tertentu untuk mengungkap suatu hal yang menyangkut kehidupan orang banyak. Menurutku licik untuk sesuatu yang positif adalah hal yang wajar asal tidak merugikan orang lain. 

Belajar itu susah. Sangat susah. Belajar itu susah tetapi tidak membuang waktu. Waktu tetap sama. Hanya hal di dalamnya saja yang berbeda. Mengapa berbeda ? Karena belajar. Waktu akan berputar terus menerus tanpa henti. Waktu itu sama dari hari ke hari. Belajar membuat waktu itu seakan memiliki perubahan dari waktu ke waktu. Belajar itu absurd. Belajar itu susah. Apalagi belajar memahami orang lain. Belajar memahami diri sendiri saja susah. 

Namun jawaban dari "siapakah aku ini" dan "untuk apa aku disini" hanya dapat dijawab dengan "belajar".
Belajar untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya dan belajar untuk mengerti tujuan keberadaan ku di sini, di dunia ini. 
Aku hanya bisa mencari tahu siapa aku ini dan untuk apa aku disini hanya dengan belajar. 

Entahlah. Aku tidak mengerti definisi belajar itu apa.

Setidaknya aku sedang belajar.

Belajar memahami aku.

Belajar memahami kamu.

Belajar memahami waktu.

Belajar memahami arti belajar ini.

Sang Pemilik Kunci Hati, Pengubah Sudut Pandang Gila


“If pain must come, may it come quickly. Because I have a life to live, and I need to live it in the best way possible. If he has to make a choice, may he make it now. Then I will either wait for him or forget him.” 


Kata yang tepat untuk sebuah penantian yang tak kunjung berakhir. Untuk pertemuan yang didambakan selama 11 tahun yang tak kunjung datang. Pertemuan yang akan menentukan maju mundurnya suatu penantian.  Aneh memang. Tak masuk akal. Tapi nyata. 

Menunggu seseorang yang tidak pasti adalah melelahkan. Menunggu seseorang yang sangat "jauh" itu bodoh. Dan semua hal itu aku lakukan selama 11 tahun ini. GILA.

Ya, aku memang memiliki sudut pandang "gila" mengenai penantian. Aku berpikir bahwa kesabaran akan penantian  membuahkan hasil yang sesuai dengan lamanya penantian yang aku jalani. Ternyata itu semua salah. Hal tersebut hanya akan menjadikan ku jauh dari sesuatu yang sebenarnya dapat ku miliki. Aku menemukan dua jawaban akan sebuah penantian yaitu penantian akan berujung pernikahan dan penantian berujung move on.  Tidak selamanya penantian berbuah manis, namun penantian mengajarkan ku arti dari kesetiaan.

Selama menunggu seseorang yang ku nanti selama 11 tahun, rindu itu selalu mengisi hati dan pikiran ku. Tetapi aku berpikir sejenak. Rindu ? Apakah aku merindukan orang yang sudah ku tunggu selama 11 tahun itu ? Atau aku hanya merindukan kenangan klasik masa kecil yang pernah kami jalani bersama ? Sepertinya aku hanya merindukan kenangan nya, bukan dia yang kutunggu itu. 

Tanpa sadar, selama dalam penantian menanti yang tidak pasti, banyak orang yang datang silih berganti bermaksud mengisi ruang hati yang kosong. Namun, semua tak ada yang berhasil karena pintu hati belum terketuk dan masih terkunci. Alhasil, kesepian sering sekali hadir dan hati terasa kosong. Aku akui, susah sekali membuka pintu hati untuk seseorang. Hal ini dikarenakan aku masih suka membanding-bandingkan semua orang yang datang dalam hidupku dengan orang yang ku tunggu 11 tahun lamanya. Hingga saat ini aku ter-sadar bahwa tidak ada orang yang ingin dibanding-bandingkan   satu dengan yang lain. Semua orang berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing. Dan satu hal yang terpenting adalah tidak ada yang sempurna. Dan, aku pun mulai membuka pintu hati yang masih terkunci secara perlahan.

Dia......

Dia, teman yang selalu ada dalam hidupku. Seorang teman yang tidak pernah aku duga akan membuatku tak menentu seperti ini. Seorang teman yang selalu datang membawa cerita baru. Seorang teman yang selalu memberikan perhatian melebihi "teman" pada wajarnya. Seorang teman yang selalu mengerti segala suasana hati yang sedang kurasakan. Dan seorang teman yang datang saat aku mulai membuka hati. Aneh rasanya. Teman yang  tak pernah kubayangkan sebelumnya, datang mengetuk pintu hati yang telah lama sepi pengunjung. Saat aku lelah mencari kepastian akan penantian. Ia datang dengan segala sesuatu yang sederhana. Senyumnya yang tulus, tingkahnya yang lucu menyenangkan hatiku yang lama tak menentu. Rasa sepi yang telah sekian lama menyelimuti ruang hati perlahan sirna semenjak kehadirannya. Memang hidup se-lucu ini. 

Dia yang selalu membuatku terpana saat ia berbicara akan teori-teori bodoh yang ia miliki dalam hidupnya tetapi benar adanya. Dia yang selalu mengerti bagaimana caranya menghibur seseorang setiap saat. Dia yang berbeda dari setiap orang yang pernah aku temui sebelumnya. Ya, dia berbeda. Sangat berbeda. 

Ia membuka pintu hati ini dengan statement-statement bodoh yang menjadikannya terlihat sangatlah bodoh. "bodoh bukan berarti salah", katanya. Ya, ku akui bahwa statement bodohnya selalu menjadikan ku berpikir bahwa hal itu benar adanya. 

Dia yang selalu bisa membuat ku tampil secara sederhana. Dia yang selalu bisa membuat ku lebih santai dalam menghadapi segala situasi kondisi. Dia yang dapat menerima apa adanya. Dia yang selalu ada saat kapan pun. Dia yang memegang kunci hati ini. 

Disaat ku sudah lelah mencari. Disaat hati ini tlah terkunci, kau datang membawa seberkas harapan. Engkau yang memiliki kunci hatiku. Dan ku akui hanyalah dirimu yang bisa merubah segala sudut pandang gila. Yang kurasakan tentang cintaYang selama ini menutup pintu hatiku yang kini tlah kau buka. 

Terimakasih,  sang pemilik kunci. 





Teruntuk Kamu, yang Kutunggu 11 Tahun Lamanya





Menunggu. Bagi sebagian orang kata itu memiliki makna yang membosankan. Ya, menunggu itu membosankan. Apalagi jika menunggu sesuatu yang tidak pasti. Hal tersebut akan menjadi sangat amat membosankan. Jika menunggu hanya dalam hitungan menit hingga jam pasti rasa bosan tersebut tidak terlalu terasa, namun bagaimana jika menunggu selama 11 tahun ? Bodoh.

Aku adalah orang yang bodoh. Menunggu seseorang selama 11 tahun. Tanpa kepastian. Hanya bermodal harapan. Harapan yang berawal dari sebuah kisah klasik masa kecil. Harapan yang belum tentu menjadi kenyataan. Tapi, aku selalu berharap bahwa harapan tersebut akan menjadi kenyataan. tak tahu kapan, dan bagaimana caranya.

Sedikit cerita, hal bodoh ini terjadi saat aku duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas 4. Aneh, lucu, dan tak lazim jika pada masa sekolah dasar sudah bisa merasakan perasaan yang seharusnya dirasakan oleh orang dewasa pada umumnya. Tetapi perasaan itu nyata. Berawal dari suka latihan nyanyi bersama, kegiatan gereja bersama, hingga semua yang kami kerjakan selalu bersama. Seorang kakak kelas yang lebih tua satu tahun diatas ku. Gak ganteng, Gak ada menarik-menariknya. Dia hanyalah seorang yang memakai kacamata bertali, culun, terlihat seperti anak mami, dan mirip dengan salah satu tokoh dalam serial kartun Doraemon yaitu Nobita. Nobi, ya itu panggilan kesayanganku padanya. 

Pada masa sekolah dasar aku dan Nobi sering  bersama, terlebih dalam kegiatan gereja. Hal ini terjadi karena kedua orang tua kami juga aktif dalam kegiatan menggereja. Kebersamaan kami ini sebenarnya hanya sebatas kebersamaan seperti anak SD pada dasarnya. Bermain, Bercanda, dan Berkegiatan bersama. Tak ada yang spesial. Namun, dari ketidakspesialan pertemanan kami itulah yang membuatnya spesial. Hal sederhana masa sekolah dasar yang bisa membuat ku jatuh hati. 

Paskah merupakan momen yang sangat aku tunggu. Mengapa ? Karena setiap paskah aku melihat dia selalu menari bersama kelompoknya untuk menghibur dalam perayaan paskah. Dengan Handycam Sony pada masa itu, aku tak pernah luput untuk merekam penampilannya. Selain momen paskah, ulang tahun ku merupakan momen yang selalu aku tunggu. Pada ulang tahun ke 8, Nobi memberikanku sebuah handuk berwarna orange yang masih kusimpan sampai pada hari ini. Penampilan nobi, selalu membuatku merasa bahwa "dia berbeda dari yang lain". Nobi sangat suka menggunakan kaos bergambar kartun yang menjadikan ku sampai pada saat ini sangat menyukai kaos bergambar kartun.

Sampai pada akhirnya, semua kesukaan ku tentang dia berubah ketika Nobi harus pindah untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang menengah pertama. Sedih. Perasaan yang dapat aku ungkapkan. 
Kami lost contact. Aku benar-benar merasa kehilangan seseorang yang selalu mengisi hari-hari ku di sekolah, di gereja, dan dimana pun. Rasanya hampa. 

2 tahun berlalu, tepatnya pada pernikahan saudara di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran kami kembali dipertemukan. Pertemuan yang tak sengaja dilakukan. Pertemuan yang mengejutkan. Tapi, dalam setiap pertemuan pasti memiliki makna.  Dia bertanya "apa kabar ?" Salah tingkah. Ya, jantungku berdebar sangat cepat. Seakan ia yang lama menghilang kini kembali. Ternyata perasaan itu masih ada. 

Mulai dari pertemuan itu, banyak hal terjadi. Aku mendapat kontaknya. Aku mendapat media sosialnya. Kami sempat berhubungan via sms namun tak bertahan lama. Pada saat bbm menjadi salah satu hal yang cukup "tenar" saat itu, aku mencoba mencari tahu pin-nya untuk hanya sekedar ingin mengetahui kabarnya. Akhirnya aku mendapatkan pin nya. Hingga Dia memiliki lima pin yang disebabkan hp nya hilang dan alasan lainnya, membuat ku juga memiliki lima pin nya. Selain hal tersebut, aku juga kerap merasakan sesuatu hal yang berhubungan dengannya. Contohnya pada saat dia sakit, aku merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hati. Aneh memang tapi ini sungguh terjadi. Pada saat ia melakukan ujian nasional SMA dan ujian SNMPT, SBMPTN sampai pada akhirnya menunggu hasilnya aku serasa ikut masuk ke dalam perasaannya. Serta pada saat aku mengetahui bahwa ia tidak diterima ke dalam universitas yang ia inginkan melalui segala jalur.
Diluar dari semua kejadian mengenai aku dan dia yang aku inginkan semenjak pertemuan di Ganjuran adalah Pertemuan kembali. ya. aku sangat menginginkan pertemuan itu kembali. 

Pertemuan itu hampir kembali, saat kakeknya meninggal aku datang untuk melayat namun dia tak ada. Saat ada pernikahan di Jakarta, sekeluarga ku bertemu dengannya, kecuali aku. Sedih. Memang. Tapi aku bisa apa ? 

Tuhan seakan menguji kesabaran ku untuk menunggu seseorang yang selama ini menjadi semangat dan inspirasiku. Nobi adalah inspirasiku, apapun yang aku lakukan selalu dia yang menjadi semangat ku dalam melakukan berbagai hal. Dia selalu ada dalam setiap keberhasilanku. Dalam setiap keterpurukan ku. Aneh ? iya memang aneh, tapi ini nyata. 

Untuk kamu yang kutunggu selama 11 tahun, terimakasih. Terimakasih karena telah ada dan singgah dalam hatiku untuk memberiku sebuah inspirasi dalam berkarya. Terimakasih telah menjadi patokan dalam setiap hal yang aku lakukan. Terimakasih telah memberikan warna dalam hariku. Terimakasih atas segalanya. Walaupun kau tak pernah mengetahui nya. 

Aku hanya menginginkan pertemuan. Walau hanya sebentar, tapi aku sangat menginginkannya. Apakah aku terlalu berharap ? Ya. Aku terlalu berharap. Berharap pertemuan itu akan terjadi. Tapi, aku juga berharap agar harapan ku akan pertemuan itu tidak mengkhianati penantian ku selama ini. Walaupun aku mengetahui untuk saat ini kami belum memiliki waktu yang tepat untuk saling bertemu. Tapi Aku yakin, suatu hari pertemuan itu akan terjadi. Pertemuan berujung selamanya. 


Mendung, Belum Berarti Hujan !


Mendung, orang akan sealu menganggap mendung adalah pertanda akan turunnya hujan. Semakin gelapnya langit akan semakin deras hujan yang turun. Banyak orang juga sering mengibaratkan mendung sebagai suasana hati yang galau, gloomy, unmood. Dan akibat dari hati yang mendung adalah turunnya hujan air mata. Semua orang pasti pernah merasakan mendung.

Banyak faktor yang bisa membuat hati mendung, seperti putus cinta ataupun ditolak oleh seseorang yang kita cinta. Setiap orang pasti pernah mengalami hal ini. Dan biasanya setelah mengalami hal ini, mendung yang dialami seakan berangsur lama melebihi musim hujan yang biasanya terjadi. Hujan yang diturunkan biasanya keluar dari batas wajar. Tapi hal tersebut dapat dikatakan sebagai hal yang wajar, 

Faktor kedua yang membuat hati mendung adalah ketika tidak diterima di sekolah atau perguruan tinggi atau tempat-tempat yang diingini untuk mendapatkan suatu ilmu. Hal ini juga wajar dialami oleh banyak orang. Bahkan orang-orang berkemampuan berlebih  dan memiliki keberuntungan tinggi pun pernah merasakan hal ini. 

Faktor ketiga yang membuat hati mendung adalah menjadi bahan bully di kalangan pertemanan. Akan berbeda rasanya jika yang menjadi bahan bully itu menganggap semuanya sebagai lelucon, dengan yang menganggap hal tersebut menjadi sesuatu yang serius. Sebagai seorang yang di bully di kalangan pertemanannya, hatinya akan selalu mendung karena mengetahui banyak orang yang seakan tidak menginginkan kehadirannya dalam kelompok tersebut, selain itu orang yang di bully akan selalu merasakan tidak adanya keberpihakan kepada dirinya yang menyebabkan turunnya hujan dalam dirinya, entah hujan itu berupa hujan amarah atau akan bertambah dengan petir kebencian. entahlah. 

Masih banyak sekali faktor yang menyebabkan mendung berujung hujan.

Tapi ingat, mendung belum berarti hujan 
Statement ini saya dapatkan dari pengalaman seorang tuna paraplegia yang saya temui dalam sebuah acara. Awalnya ia diberikan kehidupan yang normal dan lancar hingga berumur 22 tahun sebelum ia mengalami kecelakaan yang menuntut kakinya harus diamputasi. Hatinya menjadi mendung dan tetap selalu mendung ketika menghadapi kenyataan bahwa ia tidak dapat berjalan kembali menggunakan kedua kaki yang biasanya ia gunakan dalam setiap harinya. Hingga pada akhirnya ia mendapatkan pencerahan ketika ia dibuatkan motor khusus untuk penyandang disabilitas, Dari mendung,berangsur-angsur mulai muncul suatu sinar cerah yang membuat ia memiliki suatu kekuatan. Kekuatan itu terbukti saat ia dengan berani mengendarai motor khususnya itu dari Jakarta menuju Bali seorang diri, dan sekarang ia menjadi seorang Outreach Officer di salah satu organisasi peduli disabilitas.  

Mendung memang belum berarti hujan, pengalaman pahit akan digantikan oleh pengalaman manis yang menjadi bermakna ketika kita memaknai pengalaman pahit tersebut sebagai sebuah pembelajaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa memaknai suatu pengalaman pahit akan menimbulkan rasa sakit yang begitu mendalam, tetapi saat kita memaknai dengan pemikiran yang positif, maka rasa sakit itu akan berangsur menghilang. 

Mendung belum berarti hujan, segala hal yang dimaknai dengan hati akan selalu berakhir indah. 

Mendung belum berarti hujan, saat matahari pengharapan datang membawa sinar positiv untuk menerangi hari-hari yang sendu, 

keep positive 
let the sun bright your life and make the rain won't come 


Hewan, Si Pemilik Foto Candid Terbaik


Fotografi salah satu cara  memotret moment yang akan menjadikannya abadi. Ekspresi merupakan salah satu bagian dari seni ber"fotografi". Ekspresi dapat dibentuk, tergantung bagaimana fotografer melihat estetika dari foto yang akan ia buat. Ekspresi dapat dibentuk secara tidak sengaja oleh sang model dan secara sadar fotografer menangkap ekspresi tersebut. Kalau bahasa kekinian mengatakan bahwa hal ini disebut dengan foto candid.

Foto Candid. Ya, banyak orang tergila-gila melakukan foto candid. Mungkin karena foto candid akan terlihat lebih alami dibandingkan foto yang dibuat secara sadar.  Namun, foto candid yang diartikan pada masa sekarang ini menjadi mengarah kepada foto yang dibuat oleh si model itu sendiri. Contohnya, "fotoin aku dong, tapi aku maunya candid" 
hmmmm......... 

Sebagai seorang pencinta fotografi, saya memilih dan menetapkan hewan sebagai pemilik foto candid terbaik. Mengapa ? Karena ekspresi yang dimunculkan oleh hewan merupakan ekspresi yang alami. Ekspresi hewan tidak dapat diberi "agenda setting" layaknya manusia. Ekspresi terbaik yang dimunculkan hewan  bergantung kepada timing sang fotografer saat memotret hewan tersebut. 

Memotret hewan memang terlihat susah susah gampang. Fotografer harus mengamati tingkah laku dan segala sesuatu yang sedang dilakukan oleh hewan tersebut. Lalu mencari momen yang pas untuk mulai memotret ekspresi dari hewan tersebut. Kesulitan yang dihadapi adalah permasalahan Timing. yaa kelincahan fotografer untuk memotret tingkah laku dan ekspresi hewan diuji disini. 

Saya banyak belajar tentang memotret hewan melalui Youtube. Banyak channel YouTube yang menawarkan berbagai macam cara memotret hewan mulai dari hewan yang kecil-kecil sampai hewan buas yang menjadi arah sasaran wild life. Saya banyak belajar bagaimana memotret hewan salah satunya dari Tony Northrup melalui channel YouTube nya yang berjudul 

Tony & Chelsea LIVE: Macro Photography, St. Patrick's Day & BINGO  dapat dilihat https://www.youtube.com/watch?v=CV2IQ-hC5WM

Ada beberapa contoh ekspresi hewan yang pernah saya potret. Saya masih belajar dan terus belajar dalam menggunakan timing  dalam menangkap ekspresi hewan tersebut. Tidak hanya belajar menggunakan timing, tetapi juga belajar bagaimana teknik memotret hewan jika hewan itu berada di balik kaca, atau memotret hewan di kebun binatang, bahkan memotret hewan di alam bebas. 







Ekspresi kadal yang terkejut melihat banyaknya orang di balik kaca


Kupu-kupu yang sedang mencari sari bunga diambil dengan menggunakan lensa makro 


Timing yang pas ketika melihat sepasang kura-kura sedang kawin


Ekspresi orang utan  menggendong pisang yang diberikan oleh pengunjung, seakan ia menyayangi pisang tersebut. 


Ekspresi monyet di Pulau Kembang yang  menjulurkan lidah seakan sedang mengejek temannya


Ekspresi monyet kedua ini seakan sedang menunjukan kenikmatan dari kacang yang sedang dimakannya, 


Ekspresi anjing setelah mengambil tomat dan mengetahui bahwa tomat itu sudah busuk