Sang Mekanik



Museum Ambarawa didirikan sejak 6 Oktober 1976. Museum Ambarawa memiliki 21 koleksi lokomotif dan empat diantaranya masih dapat digunakan. Empat lokomotif yang masih dapat digunakan terdiri dari dua lokomotif uap dan dua lokomotif diesel. Lokomotif uap dijalankan menggunakan kayu jati serta batu bara, lalu pada tahun 1950-an diciptakan lokomotif diesel untuk menghemat biaya produksi. 



Museum Ambarawa memiliki kereta bergigi yang masih bisa berjalan pada kemiringan 30 derajat dan kereta ini masih bisa digunakan untuk mengantarkan pengunjung museum berwisata hingga stasiun Tuntang. Kereta-kereta yang berada di museum Ambarawa khususnya lokomotif uap merupakan kereta peninggalan Belanda. Lokomotif uap kini mulai menjadi barang antic sebab pabrik yang dahulu memproduksi sudah tidak memproduksi lagi, bahkan ada kemungkinan bahwa pabriknya sudah tutup.



Museum kereta api Ambarawa memiliki sesorang yang berjasa di balik lokomotif tua tersebut. Seorang mekanik otodidak berumur 60 tahun bernama Mr.Pudjiyono. Mr Pudjiyono adalah seorang mekanik otodidak yang bekerja merawat loko uap yang ada di museum kereta api Ambarawa. Pada tahun 1974, Mr. Pudjiyono pernah belajar di posdik untuk mempelajari lokomotif yang ada di Indonesia. Dengan kemampuan otodidaknya, Mr. Pudjiyono memiliki peran penting dalam museum Ambarawa yaitu menyehatkan, memperbaiki dan merawat lokomotif yang sudah rusak atau tidak terpakai lagi. Keahlian Mr. Pudjiyono dapat dilihat ketika ia membuat sendiri onderdil pengganti yang berada dalam lokomotif bila onderdil tersebut rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Mr. Pudjiyono dapat menjalankan satu-satunya lokomotif yang berada di Indonesia dan  sudah tidak ada lagi negara lain. Prestasi yang telah Mr.Pudjiyono raih adalah menghidupkan kembali lokomotif uap yang telah mati sejak tahun 1977 hingga tahun 2012.